Peringatan Bapak AI Geoffrey Hinton: AI Gantikan Lebih Banyak Pekerjaan di 2026

katadata.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer yang dikenal sebagai 'bapak AI' mengatakan bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan lebih banyak pekerjaan pada 2026.

"Kita akan melihat AI menjadi lebih baik lagi. Saat ini AI sudah sangat bagus," kata Hinton dalam wawancara di acara 'State of the Union' CNN yang ditayangkan Minggu, dikutip dari Business Insiden, pekan lalu (29/12).

Hinton, yang memainkan peran kunci dalam mengembangkan sistem Al, mengundurkan diri dari jabatannya di Google pada 2023. Sejak itu, ia berbicara lebih terbuka tentang potensi bahaya dari kecerdasan buatan.

"Saat ini, AI sudah mampu menggantikan pekerjaan di pusat layanan pelanggan atau call center, tetapi nantinya akan mampu menggantikan banyak pekerjaan lainnya," Hinton menambahkan.

Hinton mengatakan bahwa kemajuan AI semakin membahayakan beberapa pekerjaan kerah putih.

"Setiap tujuh bulan atau lebih, kemampuannya untuk mengerjakan tugas-tugas yang memakan waktu sekitar dua kali lebih lama akan meningkat," kata Hinton, seraya mencatat bahwa AI telah berkembang dari 'pengkodean selama satu menit' menjadi 'proyek-proyek utuh yang memakan waktu sekitar satu jam'.

"Dalam beberapa tahun ke depan, AI akan mampu mengerjakan proyek rekayasa perangkat lunak yang memakan waktu berbulan-bulan, dan kemudian hanya akan dibutuhkan sedikit orang," Hinton menambahkan.

Hinton membandingkan pergeseran AI dengan revolusi industri, yang membuat kekuatan fisik manusia jauh kurang relevan untuk sebagian besar pekerjaan. AI mengancam akan melakukan hal serupa terhadap kecerdasan manusia.

Hinton juga mengatakan bahwa dia lebih khawatir tentang AI, karena perkembangannya lebih cepat dari yang dia perkirakan, terutama dalam kemampuannya untuk bernalar dan menipu orang.

"Jika ia (AI) percaya Anda mencoba menyingkirkannya, ia akan membuat rencana untuk menipu Anda agar Anda tidak berhasil menyingkirkannya," sambung Hinton.

'Jobless Boom' pada 2026

Para ekonom memperkirakan terjadi 'jobless boom' pada 2026, karena perusahaan mengandalkan AI untuk meningkatkan produktivitas tanpa menambah karyawan.

Kepala Ekonom KPMG, firma jasa profesional independen yang menyediakan layanan audit, pajak, dan konsultasi skala global, Diane Swonk menulis pada dua pekan lalu bahwa 'pertumbuhan dan hasil pasar tenaga kerja telah terpisah'.

"Perusahaan mampu melakukan lebih banyak hal dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit di era AI," tulis Swonk dalam risetnya. "Banyak perusahaan yang melakukan perekrutan besar-besaran sebelumnya, dan sekarang melakukan PHK untuk menyesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan bisnis saat ini."

Namun, AI dapat meningkatkan perekrutan pada 2026, khususnya untuk posisi tingkat pemula.

Dalam survei prospek tahunan yang dirilis bulan ini oleh perusahaan konsultan Teneo, 67% CEO yang disurvei mengatakan mereka memperkirakan AI akan meningkatkan perekrutan karyawan tingkat pemula pada tahun 2026. Sebanyak 58% lainnya mengatakan mereka berencana untuk menambah peran kepemimpinan senior.

Laporan itu menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan meningkatkan perekrutan di posisi-posisi yang berfokus pada teknik dan AI, sementara banyak peran yang sudah ada didesain ulang karena tugas-tugas rutin menjadi otomatis.

Survei yang dilakukan antara 14 Oktober dan 10 November 2025 itu menanyakan pendapat lebih dari 350 CEO perusahaan publik dengan pendapatan tahunan setidaknya US$ 1 miliar, bersama dengan sekitar 400 investor institusional yang mewakili nilai portofolio US$ 19 triliun.

"Bukannya AI akan melenyapkan angkatan kerja saat ini, melainkan membentuknya kembali," kata Kepala AI untuk pasar global di Teneo Ryan Cox.

Amazon misalnya, mengumumkan Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK terhadap 14.000 karyawan pada Oktober 2025. Ini merupakan yang terbesar dalam 31 tahun atau sejak Amazon berdiri pada 1994

Raksasa e-commerce Amerika Serikat itu menyatakan bahwa mereka mengalihkan sumber daya untuk berinvestasi lebih banyak dalam AI. CEO Andy Jassy memprediksi pada Juni bahwa jumlah karyawan perusahaannya akan menyusut dalam beberapa tahun mendatang seiring dengan peningkatan efisiensi dari AI.

Kepala sumber daya manusia Beth Galetti, dalam memo yang mengumumkan PHK, mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada inovasi dengan lebih sedikit orang.

“AI Generatif adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak internet, dan memungkinkan perusahaan berinovasi jauh lebih cepat daripada sebelumnya,” tulis Galetti.

“Kami yakin bahwa kami perlu lebih terorganisir, dengan lebih sedikit lapisan dan lebih banyak kepemilikan, agar dapat bergerak secepat mungkin demi pelanggan dan bisnis kami," Galetti menambahkan.

Amazon mengatakan dalam pernyataan pers bahwa AI bukanlah pendorong di balik sebagian besar PHK. Perusahaan mengatakan bahwa tujuan yang lebih besar dari pemangkasan jumlah karyawan yakni untuk mengurangi birokrasi dan menekankan kecepatan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tips Packing ala teman kumparan Biar Nggak Overload
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas Antam 8 Januari 2026: Anjlok Rp14.000, Cek Rincian Daftarnya
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Canda Prabowo: Kalian Menteri Diangkat untuk Dihujat, Enggak Apa-apa
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kemendagri: Jelang Ramadhan, pemulihan pascabencana Aceh harus cepat
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Mahkamah Konstitusi Siap Proses Uji Materi KUHP dan KUHAP Baru, Pemerintah Sambut Baik
• 17 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.