Pantau - Direktur Operasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Yasmine Praz Dessimoz, menilai pembukaan kembali perlintasan Rafah sangat penting untuk memastikan bantuan kemanusiaan dalam jumlah cukup bisa masuk ke Jalur Gaza.
Pembukaan Perlintasan Rafah Dinilai Mendesak"Dibutuhkan waktu untuk memulihkan defisit yang terjadi selama dua tahun dan mengisi kembali stok makanan, perlengkapan medis, dan barang-barang penting lainnya yang telah menipis," ungkapnya.
Menurut Yasmine, pembukaan kembali perlintasan Rafah dan kelancaran arus bantuan ke Gaza sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak konflik.
ICRC saat ini memiliki ratusan palet bantuan kemanusiaan yang siap dikirim ke Gaza dari Yordania, Mesir, dan lokasi lainnya.
Bantuan tersebut mencakup peralatan dan perlengkapan untuk perbaikan serta pemeliharaan layanan air dan air limbah, makanan dan barang-barang rumah tangga, serta perlengkapan medis.
Bantuan Kemanusiaan dan Proses PemulihanICRC juga terlibat dalam kerja sama dengan otoritas setempat untuk memfasilitasi pemulihan jenazah dari bawah reruntuhan bangunan.
"Tujuannya adalah membantu keluarga mendapatkan jawaban dan memastikan penanganan jenazah secara bermartabat, yang merupakan perhatian kemanusiaan penting bagi ICRC di mana pun kami beroperasi," ia mengungkapkan.
Meskipun deklarasi gencatan senjata telah ditandatangani pada 13 Oktober oleh Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, perlintasan Rafah masih tetap ditutup.
Penutupan ini berlangsung sejak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober.
ICRC berharap akses kemanusiaan dapat dibuka kembali agar bantuan yang sangat dibutuhkan segera sampai ke warga Gaza.



