Banda Aceh (ANTARA) - Bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri Sitalale, Desa Inor, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, yang merupakan kabupaten kepulauan terluar di Provinsi Aceh, membutuhkan perbaikan serius karena kondisinya rusak berat.
Kepala TK Sitalale Inor, Devi Ruhmi Wahyuni di Simeulue, Selasa, mengatakan kerusakan bangunan sekolah tersebut sudah lebih dari dua tahun dan membahayakan peserta didik maupun tenaga pendidik.
"Hampir semua ruangan di sekolah sudah tidak layak difungsikan lagi. Atap, dinding, plafon, dan fasilitas sekolah lainnya, juga semua rusak berat dan tidak bisa dipakai lagi," katanya.
Saat ini, kata dia, proses belajar mengajar dipindahkan ke gedung serbaguna milik desa. Bangunan gedung serbaguna tersebut juga tidak layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar.
Baca juga: Mendikdasmen semangati siswa hari pertama sekolah di Aceh Tamiang
"Proses belajar mengajar kami relokasi ke gedung serbaguna milik Desa Inor sejak Mei 2025. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada murid dan juga dewan guru," kata Devi Ruhmi Wahyuni.
Pihak sekolah, kata dia, telah berupaya mengajukan proposal ke dinas terkait untuk mendapatkan dana rehabilitasi sekolah sejak 2023. Selain itu juga berupaya menjumpai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Simeulue guna mendapatkan dukungan perbaikan bangunan sekolah.
"Kami juga menjumpai Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue untuk memohon bantuan pembangunan sekolah itu, tetapi belum membuahkan hasil," katanya.
Devi Ruhmi Wahyuni menyebutkan pihaknya sempat mendapatkan anggaran revitalisasi bangunan TK tersebut pada 2025. Namun tidak jadi diberikan karena terkendala surat tanah bangunan sekolah.
Baca juga: BNPB: Kegiatan belajar mengajar kembali dimulai di wilayah Aceh
"Kami berharap pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, membantu perbaikan sekolah tersebut. Begitu juga dengan gedung yang digunakan sekarang, juga tidak layak untuk belajar mengajar anak," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Simeulue Firmanuddin mengatakan pihaknya sudah berupaya memperbaiki bangunan TK tersebut. Anggaran perbaikan dari pemerintah pusat.
"Pada 2025 sudah ada bantuan revitalisasi, tetapi terkendala dengan surat tanah. Tanah bangunan TK itu atas nama desa bukan milik sekolah, sehingga pusat membatalkan. Tahun ini kami usulkan kembali," kata Firmanuddin.
Baca juga: Mendikdasmen: Terima kasih telah bersihkan sekolah terdampak bencana
Kepala TK Sitalale Inor, Devi Ruhmi Wahyuni di Simeulue, Selasa, mengatakan kerusakan bangunan sekolah tersebut sudah lebih dari dua tahun dan membahayakan peserta didik maupun tenaga pendidik.
"Hampir semua ruangan di sekolah sudah tidak layak difungsikan lagi. Atap, dinding, plafon, dan fasilitas sekolah lainnya, juga semua rusak berat dan tidak bisa dipakai lagi," katanya.
Saat ini, kata dia, proses belajar mengajar dipindahkan ke gedung serbaguna milik desa. Bangunan gedung serbaguna tersebut juga tidak layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar.
Baca juga: Mendikdasmen semangati siswa hari pertama sekolah di Aceh Tamiang
"Proses belajar mengajar kami relokasi ke gedung serbaguna milik Desa Inor sejak Mei 2025. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada murid dan juga dewan guru," kata Devi Ruhmi Wahyuni.
Pihak sekolah, kata dia, telah berupaya mengajukan proposal ke dinas terkait untuk mendapatkan dana rehabilitasi sekolah sejak 2023. Selain itu juga berupaya menjumpai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Simeulue guna mendapatkan dukungan perbaikan bangunan sekolah.
"Kami juga menjumpai Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue untuk memohon bantuan pembangunan sekolah itu, tetapi belum membuahkan hasil," katanya.
Devi Ruhmi Wahyuni menyebutkan pihaknya sempat mendapatkan anggaran revitalisasi bangunan TK tersebut pada 2025. Namun tidak jadi diberikan karena terkendala surat tanah bangunan sekolah.
Baca juga: BNPB: Kegiatan belajar mengajar kembali dimulai di wilayah Aceh
"Kami berharap pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, membantu perbaikan sekolah tersebut. Begitu juga dengan gedung yang digunakan sekarang, juga tidak layak untuk belajar mengajar anak," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Simeulue Firmanuddin mengatakan pihaknya sudah berupaya memperbaiki bangunan TK tersebut. Anggaran perbaikan dari pemerintah pusat.
"Pada 2025 sudah ada bantuan revitalisasi, tetapi terkendala dengan surat tanah. Tanah bangunan TK itu atas nama desa bukan milik sekolah, sehingga pusat membatalkan. Tahun ini kami usulkan kembali," kata Firmanuddin.
Baca juga: Mendikdasmen: Terima kasih telah bersihkan sekolah terdampak bencana




