Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak datar, cenderung melemah, pada perdagangan hari ini, Rabu (7/1). Kondisi ini terjadi karena masih adanya tekanan dari dolar Amerika Serikat dan sikap tunggu dari investor.
“Rupiah diperkirakan akan datar dengan potensi melemah terhadap dolar AS yang rebound oleh pernyataan hawkish pejabat The Fed (bank sentral AS, The Federal Reserves),” kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).
Investor kini cenderung wait and see untuk mengantisipasi serangkaian data ekonomi penting, baik dari AS dan Indonesia. Lukman memperkirakan rupiah akan berada di level Rp 16.700 per dolar AS hingga Rp 16.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka melemah pada level Rp 16.781 per dolar AS. Level ini turun 23 poin atau 0,14% dari penutupan sebelumnya.
Senior Economists KB Valbury Fikri C. Permana melihat peluang depresiasi lanjutan juga masih ada. “Rupiah bisa terdepresiasi hingga mendekati Rp 16.780 per dolar AS,” kata Fikri.
Dorongan pelemahan rupiah ini berasal dari penguatan dolar AS terhadap mata uang utama lain, seperti euro dan franc Swiss. Data ekonomi AS juga memberi dukungan tambahan seperti indeks aktivitas jasa dan komposit melambat, tetapi masih menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan Eropa.
Dari Asia, rencana pelonggaran kebijakan moneter China turut memengaruhi dinamika pasar global. Di dalam negeri, membaiknya minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN) menjadi faktor penahan pelemahan rupiah.
Namun, menurut Fikri, kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi domestik membuat pasar menuntut imbal hasil SUN yang lebih tinggi, sekaligus meningkatkan risk premium.



