Pemerintah memastikan negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) terus berlanjut pada pekan depan. Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, penyusunan dokumen atau legal drafting akan mulai dilakukan pada pekan depan, 12-19 Januari 2026.
"Jadi sesuai dengan jadwal, tanggal 12 sampai tanggal 19 ini adalah penyusunan legal drafting," ujar Prasetyo usai Taklimat Awal Tahun Presiden RI di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1).
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga dipastikan akan bertolak ke AS jika legal drafting tersebut rampung. Prasetyo menargetkan, negosiasi tersebut sudah mencapai kesepakatan dan bisa ditekan Presiden pada akhir bulan ini.
"Nah, kita harapkan di dalam penyusunan legal drafting kesepakatan-kesepakatan tersebut sudah bisa dituangkan, dan harapannya di akhir bulan sudah bisa kita tanda tangani," jelas dia.
"Tentunya dalam proses kita terus-menerus berusaha melakukan negosiasi-negosiasi untuk kepentingan kita," tambahnya.
Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan negosiasi tarif resiprokal dengan AS dapat rampung pada akhir tahun 2025. Indonesia mendapat tarif sebesar 19 persen, dari sebelumnya 32 persen.
“Karena Indonesia adalah negara ketiga yang make a deal dengan US, dan kita menyelesaikan apa yang sudah kita capai pada tanggal 22 Juli. Dan harapannya di tahun 2025 ini, tadi Bapak Presiden minta supaya kita selesaikan,” kata Airlangga dalam konferensi pers HUT AEI di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (12/12).
Airlangga menjelaskan tarif impor AS terhadap sejumlah produk Indonesia saat ini masih dalam proses negosiasi. Namun, ekspor dipastikan tetap berjalan.
Meski ada sejumlah pembatasan dari AS, permintaan terhadap produk Indonesia tetap kuat. Dia mencontohkan ekspor furnitur yang masih berjalan, termasuk kayu meranti yang tetap diminati pasar AS.
Selain itu, beberapa produk furnitur dengan bahan penutup non-kain juga tidak masuk dalam kategori barang yang dikenakan tarif tambahan.




