PERGERAKAN saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) kembali menyita perhatian pelaku pasar modal pada awal Januari 2026. Emiten sektor properti ini terpantau menunjukkan lonjakan aktivitas perdagangan (volatilitas) setelah sebelumnya sempat lama tertidur di level harga terendah Rp50 per saham.
Fenomena ini mengingatkan investor pada pola pergerakan saham DADA di pertengahan hingga akhir 2025. Saat itu, saham ini sempat mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh level Rp240 pada Oktober 2025, sebelum akhirnya kembali terhempas ke level dasar akibat tekanan jual yang masif.
Aksi Jual Pengendali dan Riwayat VolatilitasBerdasarkan data pasar yang dihimpun, volatilitas ekstrem saham DADA kerap dikaitkan dengan aktivitas transaksi dari pemegang saham pengendali. Penurunan harga yang tajam pada periode sebelumnya terkonfirmasi terjadi seiring dengan aksi pelepasan kepemilikan oleh PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), entitas pengendali di bawah pimpinan Adam Bilfaqih.
Data perdagangan mencatat bahwa ketika harga saham mengalami reli kenaikan, pihak pengendali justru melakukan penjualan dalam jumlah besar. Aksi profit taking dari pemilik mayoritas ini secara teknis dan psikologis memberikan tekanan berat pada harga saham, yang memicu penurunan kembali ke level gocap.
Status Fundamental dan Isu PailitDilansir dari Ajaib sekuritas, di tengah fluktuasi harga yang liar, kondisi fundamental perseroan juga menjadi catatan penting. Laporan keuangan DADA pernah mendapatkan opini dengan catatan paragraf penjelas mengenai kelangsungan usaha (going concern) dari auditor independen. Hal ini disebabkan oleh posisi liabilitas jangka pendek perseroan yang tercatat melebihi aset lancarnya, menandakan adanya tantangan likuiditas yang serius.
Terkait isu yang beredar di kalangan investor ritel mengenai status kepailitan, hingga awal 2026 tercatat tidak ada putusan pailit resmi terhadap PT Diamond Citra Propertindo Tbk. Kekhawatiran pasar sering kali tertukar dengan kasus hukum entitas lain yang memiliki kemiripan nama. Kendati demikian, status keuangan perseroan memang masih berada dalam tekanan tanpa adanya perbaikan fundamental yang signifikan.
Keluarnya saham DADA dari Papan Pemantauan Khusus (Full Call Auction/FCA) pada Oktober 2025 lalu juga turut berkontribusi pada kembalinya mekanisme pasar reguler, yang memungkinkan fluktuasi harga terjadi lebih cepat dan agresif. (Ajaib/Z-10)





