Pengamat: Diskon Tiket Pesawat Nataru 14% tak Efektif Tarik Penumpang

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat penerbangan Alvin Lie memandang kebijakan insentif diskon tiket pesawat yang berlangsung selama Nataru lalu, tak efektif untuk menarik traffic penumpang domestik.

Alvin yang juga Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) menyoroti adanya anomali. Pasalnya, meskipun harga tiket pesawat domestik diturunkan sebesar 13%—14%, jumlah penumpang justru menurun. 

Sebaliknya, harga tiket internasional yang murni mengikuti mekanisme pasar—tanpa adanya tarif batas atas (TBA)—harga mahal saat liburan akhir tahun. Namun, jumlah penumpang justru meningkat.  

“Hal ini menegaskan bahwa kebijakan menurunkan harga tiket pesawat tanpa diikuti dengan penguatan daya tarik wisata dan penurunan tarif hotel, adalah mubazir. Tidak efektif,” tuturnya kepada Bisnis, dikutip pada Rabu (7/1/2026). 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Melihat secara besaran diskon, memang pesawat lebih rendah daripada diskon tarif KA kelas ekonomi komersial sebesar 30%, kapal laut PT Pelni sekitar 20%, dan penyeberangan sekitar 19%.

Menurut Alvin, daya tarik destinasi wisata hingga harga penginapan turut mengambil peran dalam kinerja penjualan tiket pesawat. 

Baca Juga

  • Kemenhub Ungkap Alasan Penumpang Pesawat Domestik Susut Selama Nataru
  • Jumlah Penumpang Kapal Laut & Kereta Naik Selama Nataru, Pesawat Domestik Tertekan
  • Airbus Bakal Rilis Data Pengiriman Pesawat Usai Target Dipangkas

Dia menilai, pengemasan objek wisata, promosi tepat sasaran, ataupun harga yang menarik dan bersaing menjadi faktor penting bagi masyarakat untuk mengambil keputusan untuk berwisata. 

Kondisi tersebut, lanjut Alvin, menjelaskan mengapa warga Indonesia lebih memilih berlibur ke luar negeri, ketimbang menjelajahi wisata di dalam negeri. 

“Sudah enam tahun ini Pemerintah menahan harga tiket pesawat, tetapi bagaimana dengan tarif transportasi lain? Tarif hotel apakah ada standar & pengaturan? Tidak ada. Bisa naik-turun sesuai mekanisme pasar,” tegasnya. 

Adapun, di tengah meningkatnya mobilitas libur akhir tahun, jumlah penumpang pesawat domestik justru tercatat menurun, sedangkan penumpang internasional masih tumbuh.

Pada saat yang sama, angkutan kereta api, laut, dan penyeberangan (ASDP) mencatat lonjakan penumpang yang signifikan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto pun menuturkan, penyebab penurunan tersebut termasuk preferensi masyarakat yang mungkin bosan berwisata di dalam negeri dan lebih memilih ke luar negeri pada libur akhir tahun kemarin. 

“Penyebabnya bisa beberapa hal, seperti pindah ke moda KA dan bis/travel/mobil pribadi untuk yang disewa di Jawa khususnya atau bosan dengan destinasi wisata dalam negeri ataupun khawatir cuaca ekstrem,” tutur Bayu yang juga memimpin PT TransNusa Aviation Mandiri. 

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub mencatat pada periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, kontraksi tipis sebesar -0,91% (year on year/YoY) terjadi pada jumlah penumpang pesawat domestik. 

Dari sebelumnya 7,39 juta penumpang pada 2024 menjadi 7,32 juta orang pada Nataru 2025/2026. Sementara penumpang luar negeri tumbuh 6,22% YoY. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ledakan Terus Berlanjut di Seluruh Rusia Sepanjang Malam, Dukungan untuk KTT Ukraina Digelar di Paris
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Keunikan Pelatih Anyar Timnas Indonesia John Herdman: Dari Inggris, tapi Justru Sukses di Amerika Utara
• 7 jam lalubola.com
thumb
Cegah Abrasi Meluas, Kementerian PU Lakukan Penguatan pada Tebing Sungai Krueng Tiro di Pidie
• 20 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Super Flu Lebih Berisiko pada Anak, IDAI Ungkap Gejala Bahaya yang Wajib Diwaspadai Orang Tua
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Pemprov Jateng Targetkan 383 Unit Bus Layani Program Mudik dan Balik Gratis Lebaran 2026
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.