Sebuah danau raksasa di Australia berubah warna usai cuaca ekstrem melanda wilayah tersebut. Banjir mengubah danau tersebut menjadi dua warna yang sangat kontras. Fenomena ini terlihat jelas dalam citra satelit terbaru yang dirilis NASA.
Danau Lake Eyre, atau dikenal juga sebagai Kati Thanda–Lake Eyre. Dengan luas lebih dari 5.632 km persegi, Lake Eyre merupakan danau endoreik terbesar di benua Australia, danau tanpa aliran keluar yang hanya terisi air saat terjadi hujan lebat atau banjir besar.
Terletak di Australia Selatan, Lake Eyre juga dikenal sebagai titik alami terendah di Australia. Dalam beberapa waktu, danau ini kering kerontang. Namun kali ini, banjir besar mengubah wajahnya secara total.
Dilansir Newsweek, Citra satelit NASA yang diambil pada 15 Desember 2025 oleh Operational Land Imager di satelit Landsat 8 memperlihatkan kondisi alami danau tersebut. Dua bagian terdalam Lake Eyre, Belt Bay dan Madigan Gulf, masih tergenang air, tetapi dengan warna yang sangat berbeda.
Berdasarkan laporan NASA, air di Belt Bay tampak biru kehijauan cerah, memadukan nuansa hijau dan biru seperti aquamarine. Sebaliknya, Madigan Gulf justru berwarna coklat kemerahan pekat, yang dari jarak lebih dekat bahkan terlihat merah muda hingga oranye.
Menurut NASA, hujan deras sejak awal Mei telah membanjiri sejumlah sungai yang bermuara ke Lake Eyre. Banjir tersebut berlanjut sepanjang musim gugur dan musim dingin di belahan Bumi selatan.
Ketika musim semi tiba pada Oktober, intensitas banjir mulai menurun. Air di danau pun perlahan menguap. Memasuki awal Desember, sungai-sungai yang sebelumnya mengalirkan air ke Lake Eyre kembali mengering, sementara permukaan air danau turun dengan cepat.
Perbedaan warna mencolok antara Belt Bay dan Madigan Gulf diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda, seperti tingkat salinitas, kedalaman air, serta komposisi mikroorganisme. Sejumlah danau berwarna merah muda di dunia diketahui memiliki jenis alga tertentu, yang juga ditemukan di Lake Eyre.
Foto-foto spektakuler ini direkam oleh NASA Earth Observatory, menggunakan data Landsat milik United States Geological Survey (USGS).
Berbeda dari kebanyakan danau lain, Lake Eyre bersifat endoreik, artinya tidak memiliki saluran air keluar. Keberadaannya sepenuhnya bergantung pada hujan atau banjir yang di wilayah ini tergolong langka. Hingga kini, belum diketahui kapan air di Lake Eyre akan benar-benar menghilang kembali.
Danau endoreik sendiri termasuk fenomena langka. Pada 2023, Danau Van di Turki sempat mengering dan memperlihatkan mikrobialit kuno, struktur batuan vertikal mirip terumbu karang raksasa yang selama ratusan ribu tahun tersembunyi di bawah permukaan air.
Struktur batuan tersebut diperkirakan terbentuk hingga 800 ribu tahun lalu, kemungkinan akibat aliran lava vulkanik yang bercampur dengan batuan di dasar danau.
Perubahan warna Lake Eyre kali ini menjadi pengingat betapa dinamisnya alam, sekaligus menunjukkan bagaimana perubahan cuaca ekstrem dapat mengubah lanskap bumi dalam waktu singkat, bahkan di tempat yang biasanya kering dan nyaris tak berair.



