FAJAR, JAKARTA — Perjalanan panjang Fajar Fathurrahman bersama Borneo FC akhirnya sampai pada persimpangan. Setelah hampir lima musim mengabdi, bek kanan yang dikenal konsisten dan pekerja keras itu resmi meninggalkan Pesut Etam jelang bergulirnya putaran kedua Super League. Keputusan ini bukan sekadar soal pindah klub, melainkan babak baru dalam karier seorang pemain yang kini memasuki fase penting sebagai pesepakbola matang.
Berstatus bebas transfer, Fajar langsung menjadi incaran sejumlah klub. Nama Persija Jakarta, Dewa United, hingga Malut United muncul sebagai peminat serius. Namun, di antara beberapa opsi tersebut, Persija Jakarta disebut menjadi pelabuhan yang paling mendekati kenyataan.
Kabar itu pertama kali menguat setelah akun Instagram pemantau bursa transfer, @liga_dagelann, mengunggah informasi bahwa Fajar lebih condong memilih Persija. “Bursa transfer. Diminati oleh banyak klub, Fajar Fathurahman kabarnya lebih memilih Persija Jakarta,” tulis akun tersebut. Meski belum ada pengumuman resmi dari klub maupun sang pemain, sinyal ke arah ibu kota kian sulit diabaikan.
Pilihan Fajar menuju Persija tentu tidak lahir tanpa pertimbangan matang. Bagi pemain kelahiran Manokwari itu, pindah ke Persija bukan sekadar berpindah kostum, tetapi juga melangkah ke level ekspektasi yang lebih tinggi. Persija adalah klub besar dengan sejarah panjang, basis suporter masif, serta tuntutan prestasi yang nyaris tak memberi ruang untuk berpuas diri.
Selain faktor reputasi klub, Persija juga menawarkan tantangan kompetitif yang kuat di posisi bek kanan. Jika transfer ini terealisasi, Fajar harus bersaing dengan nama-nama yang sudah lebih dulu mengisi sektor tersebut, seperti Bruno Tubarao, Rio Fahmi, dan Alfriyanto Nico. Persaingan ini bisa menjadi risiko, tetapi sekaligus peluang bagi Fajar untuk menguji kapasitasnya di level yang lebih ketat.
Bagi Fajar sendiri, tantangan semacam ini bukan hal baru. Sejak pertama kali bergabung dengan Borneo FC pada musim 2020/2021, ia tumbuh dari pemain muda menjadi sosok penting di lini belakang. Borneo FC menjadi klub profesional pertamanya, tempat ia belajar, jatuh bangun, dan membangun identitas sebagai fullback modern yang tak hanya bertahan, tetapi juga aktif membantu serangan.
Dalam kurun waktu hampir lima musim, Fajar mencatatkan 136 penampilan bersama Borneo FC di berbagai kompetisi. Ia menyumbang dua gol dan 13 asis—angka yang cukup impresif untuk pemain bertahan. Statistik tersebut mencerminkan peran Fajar yang tidak sekadar menjadi penjaga sisi kanan, tetapi juga bagian dari transisi menyerang tim.
Menurut data Transfermarkt, kompetisi yang paling banyak dimainkan Fajar adalah Super League atau Liga 1 dengan total 113 pertandingan. Konsistensi ini menunjukkan kepercayaan pelatih dari musim ke musim, sekaligus daya tahan fisik dan mental yang dimiliki pemain berusia 23 tahun tersebut.
Tak hanya di level domestik, Fajar juga sempat mencicipi atmosfer kompetisi internasional kawasan Asia Tenggara. Ia tampil dalam ASEAN Club Championship dan memainkan lima pertandingan, pengalaman yang turut memperkaya jam terbangnya. Meski belum berbuah prestasi besar di level regional, pengalaman itu menjadi bekal penting untuk menghadapi tekanan pertandingan dengan intensitas tinggi.
Puncak pencapaian Fajar bersama Borneo FC terjadi pada musim 2023/2024, ketika Pesut Etam keluar sebagai juara musim reguler Liga 1. Meski gelar tersebut belum berlanjut ke fase penentuan juara, capaian itu tetap menjadi tonggak penting dalam karier Fajar—sebuah bukti bahwa ia pernah menjadi bagian dari tim terbaik di kompetisi.
Namun, sepak bola selalu bergerak dinamis. Setelah lima musim, Fajar tampaknya merasa sudah waktunya mencari tantangan baru. Persija, dengan segala dinamika dan tekanannya, menawarkan ruang pembuktian yang berbeda dibanding Borneo FC, Dewa United, maupun Malut United.
Dewa United dikenal sebagai klub dengan proyek jangka panjang dan manajemen modern, sementara Malut United menawarkan narasi menarik sebagai klub yang sedang membangun identitas. Namun, Persija memiliki magnet tersendiri: sejarah, tradisi juara, dan sorotan publik yang selalu menyertai setiap langkah pemainnya.
Bagi Fajar Fathurrahman, memilih Persija bisa menjadi langkah strategis untuk menaikkan level karier, memperluas eksposur, dan membuka peluang lebih besar menuju panggung yang lebih tinggi—termasuk kemungkinan kembali mendapat perhatian di level tim nasional.
Kini, publik hanya tinggal menunggu kepastian resmi. Jika benar Fajar berlabuh di Jakarta, maka lembaran baru akan terbuka: sebuah perjalanan baru bagi bek kanan asal Manokwari yang siap menguji dirinya di bawah sorotan ibu kota.
