JAKARTA, KOMPAS.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap sedikitnya 27 grup media sosial (medsos) yang terafiliasi True Crime Community (TCC) dan dinilai berbahaya bagi anak-anak karena memuat serta mendorong konten kekerasan.
Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengatakan, puluhan grup tersebut masih aktif dan perlu menjadi perhatian serius orangtua.
“Beberapa nama grup yang terafiliasi dengan True Crime Community ini, rekan-rekan bisa lihat ada puluhan grup," kata Mayndra dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
"Dan ini masih aktif sebagai sarana kontrol bagi orangtua apabila menemukan grup-grup ini di gawai anaknya," tambahnya.
Baca juga: Densus 88 Ungkap Ada 70 Anak Gabung Grup True Crime, Mayoritas Korban Bullying
Mayndra meminta orang tua segera memberikan bimbingan apabila menemukan grup-grup tersebut di gawai anaknya.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Densus 88, True Crime Community, Grup Medsos Berbahaya, Konten Kekerasan Anak&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8xNDM3MDEzMS9kZW5zdXMtODgtdW5na2FwLTI3LWdydXAtbWVkc29zLXRydWUtY3JpbWUtY29tbXVuaXR5LW9yYW5ndHVhLWRpbWludGE=&q=Densus 88 Ungkap 27 Grup Medsos "True Crime Community", Orangtua Diminta Waspada§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Selain membeberkan daftar grup, Densus 88 juga mengungkap sejumlah ciri anak yang terpapar komunitas True Crime, yang dinilai penting untuk diketahui oleh orang tua, guru, dan sesama pelajar.
Salah satu cirinya adalah ditemukannya gambar atau simbol yang berkaitan dengan pelaku kekerasan.
“Salah satunya ditemukan gambar simbol nama pelaku kekerasan seperti yang tadi telah diuraikan di depan. Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya," jelasnya.
Ciri berikutnya, anak cenderung menarik diri dari pergaulan dan lebih memilih menyendiri di kamar untuk mengakses komunitas tersebut.
Baca juga: Densus Temukan 16 Kasus Penggalangan Dana Terorisme Dalam 3 Tahun, Nilainya Rp 5 Miliar
Densus 88 juga mencatat kecenderungan anak menirukan tokoh atau idola yang terlibat kekerasan.
Fenomena ini disebut telah terlihat dalam beberapa insiden sebelumnya.
“Ini sudah terbukti, kita memiliki insiden--pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay yang dimainkan oleh pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya," ujarnya.
Ciri lain yang patut diwaspadai adalah kegemaran mengakses konten kekerasan dan sadistik.
Anak yang terpapar, lanjut Mayndra, juga cenderung menunjukkan reaksi marah berlebihan ketika gawai mereka dilihat atau diperiksa orang lain.
“Yang bersangkutan paham bahwa ini sesuatu yang privasi bagi dia gitu. Ketika diinspeksi, cenderung bereaksi secara keras," kata dia.





