Pemimpin kelompok separatis Yaman selatan, Aidarous al-Zubaidi, dilaporkan melarikan diri ke lokasi yang belum diketahui pada Rabu (7/1) setelah batal naik pesawat menuju Riyadh untuk menghadiri perundingan krisis.
Mengutip Reuters, kabar ini disampaikan juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki. Ia mengatakan pesawat yang membawa sejumlah pimpinan senior Dewan Transisi Selatan Yaman (STC) sempat tertunda lebih dari tiga jam, namun akhirnya berangkat tanpa Zubaidi. Hingga kini, keberadaannya belum diketahui.
Selama penundaan tersebut, koalisi Saudi mendeteksi pergerakan pasukan besar, seruan mobilisasi, serta distribusi senjata ringan dan menengah. STC belum memberikan tanggapan resmi.
Zubaidi sejatinya dijadwalkan terbang ke Arab Saudi untuk membahas konflik terbaru di Yaman selatan, yang bulan lalu memicu bentrokan antara STC, yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), dan pemerintah Yaman yang diakui internasional serta didukung Saudi.
Perundingan kini berada dalam ketidakpastian. Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi mencopot Zubaidi dari keanggotaannya dan menyerahkannya ke jaksa dengan tuduhan pengkhianatan berat. Zubaidi juga dituding menghasut pemberontakan bersenjata dan menyerang otoritas negara.
Krisis ini kembali membuka retaknya hubungan Saudi-UEA dalam koalisi yang dibentuk lebih dari satu dekade lalu untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran. STC dibentuk pada 2017 dengan dukungan UEA dan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pemerintahan Yaman.
Namun bulan lalu, pasukan STC merebut wilayah luas di selatan Yaman, mengubah keseimbangan kekuatan dan memicu ketegangan terbuka antara Riyadh dan Abu Dhabi. UEA kemudian menarik pasukannya dari Yaman, setelah Saudi menilai gerak STC mengancam keamanan perbatasannya.
Pada Rabu (7/1), koalisi Saudi juga mengonfirmasi melakukan serangan udara terbatas sebagai langkah pencegahan di Provinsi al-Dhalea, wilayah selatan Yaman yang merupakan kampung halaman Zubaidi. Serangan itu dilakukan setelah koalisi memantau pergerakan pasukan bersenjata yang dilaporkan telah meninggalkan basis mereka.
Sumber-sumber lokal maupun internal STC menyebut lebih dari 15 serangan udara terjadi di provinsi tersebut.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5313542/original/006368300_1755009869-ChatGPT_Image_Aug_12__2025__09_37_15_PM.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466082/original/062042000_1767802988-1500_x_845.jpg)

