Coba Bayangkan… Lima Tahun Lagi, Apa yang Paling Kamu Inginkan?

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Saya pernah membaca sebuah kisah yang sangat menyentuh di sebuah majalah—sebuah kisah tentang mimpi.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang staf laboratorium pesawat ulang-alik di NASA wilayah Houston. Di saat yang sama, dia juga kuliah jurusan komputer di University of Houston.

Meski hidupnya nyaris habis terbagi antara sekolah, tidur, dan pekerjaan—hingga hampir mengisi 24 jam setiap hari—selama masih ada satu menit tersisa, dia selalu mencurahkan seluruh energinya untuk mencipta musik.

Menulis lirik bukan keahliannya. Karena itu, selama periode tersebut dia terus mencari rekan yang pandai merangkai kata untuk berkolaborasi. Hingga akhirnya dia bertemu seorang sahabat bernama Vaneri. Dialah yang, di masa-masa awal perjalanan kariernya, memberi dukungan paling besar.

Vaneri saat itu baru berusia 19 tahun, namun sudah berkali-kali memenangkan lomba puisi di Texas. Tulisan-tulisannya membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka benar-benar menciptakan banyak karya yang bagus bersama, dan hingga hari ini, dia masih menganggap karya-karya itu sarat dengan keunikan dan kreativitas.

Suatu Sabtu pagi, Vaneri dengan penuh semangat mengundangnya ke peternakan keluarganya untuk acara barbeku. Keluarganya adalah taipan minyak terkenal di Texas dan memiliki lahan peternakan yang sangat luas.

Meski lahir dari keluarga superkaya, cara berpakaian Vaneri, mobil yang dia kendarai, serta sikapnya yang rendah hati dan tulus kepada siapa pun, justru membuatnya semakin kagum dari lubuk hati.

Vaneri memahami betul kegigihannya pada musik. Namun, menghadapi dunia musik yang terasa begitu jauh dan pasar rekaman Amerika yang sama sekali asing, mereka tidak punya saluran apa pun. Saat itu, mereka hanya berada di pedesaan Texas—tak tahu harus melangkah ke mana selanjutnya.

Tiba-tiba, Vaneri melontarkan satu pertanyaan: “Coba bayangkan, lima tahun lagi kamu sedang melakukan apa?”

Dia terdiam sejenak.

Vaneri berbalik, menunjuk ke arahnya sambil berkata : “Hei, ceritakan padaku: dalam hatimu, apa yang PALING kamu harapkan akan kamu lakukan lima tahun lagi? Seperti apa kehidupanmu saat itu?”

Belum sempat dia menjawab, Vaneri menambahkan: “Jangan terburu-buru. Pikirkan baik-baik. Setelah benar-benar yakin, baru ucapkan.”

Dia merenung beberapa menit, lalu berkata: “Pertama, lima tahun lagi aku berharap sudah memiliki satu album yang beredar di pasaran, dan album itu disukai banyak orang serta mendapat pengakuan luas. Kedua, aku ingin tinggal di tempat yang dipenuhi musik, bisa bekerja setiap hari bersama para musisi kelas dunia.”

Vaneri bertanya lagi:  “Kamu yakin?”

Dengan suara pelan, dia menjawab : “Ya.”

“Baik, kalau begitu, mari kita tarik mundur target ini dari lima tahun ke hari ini,”” kata Vaneri.

“Jika pada tahun ke-5 albummu sudah beredar, maka pada tahun ke-4 kamu pasti sudah menandatangani kontrak dengan sebuah label rekaman.”

“Kalau begitu, pada tahun ke-3 kamu harus sudah memiliki karya yang benar-benar lengkap untuk diperdengarkan ke banyak perusahaan rekaman, benar?”

“Maka pada tahun ke-2, kamu harus sudah memiliki karya yang sangat bagus dan mulai merekamnya.”

“Lalu pada tahun pertama, kamu harus menyelesaikan seluruh aransemen lagu dan menyiapkannya untuk rekaman.”

“Pada bulan ke-6, kamu harus merapikan semua karya yang belum selesai, lalu menyortirnya satu per satu.”

“Pada bulan pertama, kamu harus menuntaskan lagu-lagu yang sedang kamu kerjakan sekarang.”

“Dan pada minggu pertama, kamu perlu membuat daftar lengkap: lagu mana yang harus diperbaiki, mana yang harus diselesaikan.”

Vaneri tersenyum lalu berkata: “Bukankah sekarang kita sudah tahu apa yang harus kamu lakukan mulai hari Senin depan?”

“Oh ya, kamu juga bilang ingin hidup di tempat yang penuh musik dan bekerja bersama para musisi top, kan? Kalau pada tahun ke-5 kamu sudah bekerja bersama mereka, maka secara logis pada tahun ke-4 kamu harus sudah punya studio atau ruang rekaman sendiri. Pada tahun ke-3, kamu seharusnya sudah mulai bekerja dengan orang-orang di lingkaran itu. Dan pada tahun ke-2, kamu jelas tidak lagi tinggal di Texas, melainkan di New York atau Los Angeles,” tambahnya.

Tahun berikutnya, dia benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaan impian banyak orang di NASA, meninggalkan Houston, dan pindah ke Los Angeles.

Dan yang luar biasa: memang bukan tepat lima tahun, tetapi kira-kira pada tahun ke-6—tahun 1983—albumnya mulai laris di Asia. Hampir 24 jam sehari ia sibuk bekerja dari pagi hingga malam bersama para maestro musik papan atas dunia.

Hikmah cerita:

Ketika kamu sering bertanya, “Mengapa hidupku menjadi seperti ini?”  cobalah bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar tahu apa yang aku inginkan?

Jika bahkan kamu sendiri tidak jelas tentang apa yang kamu inginkan, bagaimana mungkin orang-orang yang mencintaimu bisa membantu mengatur jalan hidupmu? Dan bagaimana mungkin kita menyalahkan mereka karena tidak membuka jalan bagi kita?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pandji Pragiwaksono Dipolisikan Atas Dugaan Penistaan Agama, Polisi Selidiki
• 4 jam laludetik.com
thumb
Saham Perkapalan GTSI-BULL Cs Unjuk Gigi Lagi
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Militer AS Menangkap Maduro dalam 5 Jam, Para Ahli : Senjata Tiongkok Mudah Dikalahkan
• 14 jam laluerabaru.net
thumb
Dua Petinggi TAYS Kompak Mundur, Ternyata Ini Alasannya
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PNBP Sektor ESDM Capai Rp138,37 Triliun, Lampaui Target Meski Harga Migas Turun
• 9 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.