Penulis: Arief Masbuchin
TVRINews, Malang
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Prof. Yassierli, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan dan disrupsi dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun global.
Pernyataan ini disampaikan saat Menaker menghadiri Dies Natalis ke-53 Universitas Brawijaya (UB) 2026 di Samantha Krida, Malang.
Perkembangan digitalisasi dan teknologi di dunia kerja menuntut lulusan untuk terus mengasah kemampuan dan kompetensi agar siap menghadapi perubahan industri. Pergeseran ini juga berdampak pada keterampilan yang harus disiapkan oleh perguruan tinggi agar lulusannya terserap optimal di dunia kerja.
“Saat ini terjadi banyak pergeseran di dunia kerja, baik di Indonesia maupun global. Tentu ini berdampak pada apa yang harus disiapkan oleh perguruan tinggi. Saya yakin jajaran pimpinan Universitas Brawijaya memahami tantangan ini,” ujar Menaker Prof. Yassierli.
Menaker menekankan bahwa upaya menyiapkan lulusan bukan hanya tanggung jawab Kementerian Ketenagakerjaan, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Contohnya, sinergi dengan kementerian teknis sesuai sektor industri, seperti Kementerian Pertanian untuk sektor agraria.
Secara khusus, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki program magang nasional bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi, inisiatif Presiden RI untuk membekali lulusan dengan pengalaman dunia kerja selama enam bulan.
Dalam orasi ilmiahnya di hadapan civitas akademika UB, yang juga dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Forkopimda Malang Raya, Menaker menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dinilai membawa disrupsi signifikan sekaligus membuka peluang baru di dunia kerja.
“Kampus diharapkan mampu merespons kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan AI, digital, dan teknologi baru lainnya,” ujarnya.
Menaker menambahkan, tidak semua pekerjaan akan tergantikan AI, justru akan muncul jenis pekerjaan baru, seperti AI digital talent. Tren kerja ke depan juga menunjukkan peningkatan sistem kerja jarak jauh (remote working), fleksibilitas kerja, serta peningkatan pekerja berbasis platform digital.
Menurut Yassierli, tren tersebut menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan sistem rekrutmen, yang kini semakin berbasis keterampilan (skill-based), bukan semata latar belakang pendidikan formal.
Editor: Redaksi TVRINews




