Bank Sentral Thailand memperingatkan bahwa perekonomian negara tersebut menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan daya saing yang berkelanjutan.
IDXChannel - Bank Sentral Thailand memperingatkan bahwa perekonomian negara tersebut menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan daya saing yang berkelanjutan.
Hal ini terjadi di tengah penguatan mata uang baht dan dampak tarif Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja ekspor.
Dilansir dari CNA, Rabu (7/1/2026) Ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu masih bergulat dengan sejumlah tekanan, mulai dari baht yang menguat tajam, tingginya utang rumah tangga, ketegangan perbatasan dengan Kamboja, hingga ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum pada awal Februari.
“Tahun ini ada banyak ketidakpastian,” kata Wakil Gubernur Bank of Thailand (BOT) Piti Disyatat kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa ruang kebijakan memang terbatas, namun tetap tersedia jika diperlukan.
“Jika kami pikir itu perlu, maka akan digunakan,” ujarnya.
Dalam laporan yang dirilis baru-baru ini, BOT memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada paruh kedua tahun lalu mencapai 1,3 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, ekspor tercatat tumbuh 9,1 persen.
Dari sisi inflasi, tekanan harga masih lemah. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) utama turun 0,28 persen secara tahunan pada Desember, setelah turun 0,49 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut berada jauh di bawah target inflasi bank sentral di kisaran 1–3 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat naik 0,59 persen pada Desember.
Secara tahunan, IHK utama Thailand turun 0,14 persen sepanjang 2025, dipengaruhi oleh penurunan harga bahan bakar dan listrik. Pemerintah memperkirakan inflasi utama berada di kisaran minus 0,5 persen hingga 1 persen pada kuartal pertama 2026, dan 0–1 persen untuk keseluruhan tahun.
Meski demikian, Bank Sentral menilai ekspektasi inflasi jangka menengah masih berada dalam target. Namun, risiko deflasi tetap menjadi perhatian.
“Saat ini, kami pikir tidak ada risiko deflasi. Kami belum melihatnya, tetapi ini adalah masalah yang harus dipantau,” kata Direktur Kelompok Kebijakan Moneter BOT Sakkapop Panyanakul.
Bank sentral juga menyoroti penguatan baht yang dinilai memperketat likuiditas eksportir kecil dan menengah, sehingga membebani pengiriman barang ke luar negeri. Mata uang Thailand tercatat menguat lebih dari 10 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun lalu.
Sebelumnya, Piti Disyatat mengatakan kepada Reuters Global Markets Forum bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali positif pada kuartal IV-2025, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 2,2 persen diperkirakan dapat tercapai. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)


