Setiap Mimpi Mendapat Pertolongan Tuhan

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dia adalah anak seorang pedagang kayu asal Hungaria. Sejak kecil, dia terlihat lamban dan kurang cerdas, sehingga orang-orang menjulukinya “Kepala Besar”. Julukan itu pun terasa cocok dengannya. Hingga usia 9 tahun, selain pernah mendapatkan sebuah sekrup mainan sebagai hadiah karena tertib di sekolah, dia nyaris tidak pernah menerima penghargaan apa pun.

Saat berusia 12 tahun, dia bermimpi: dalam mimpinya, seorang raja memberinya penghargaan karena karyanya mendapat perhatian Nobel. Saat terbangun, dia ingin menceritakan mimpi itu kepada orang lain, tetapi takut ditertawakan. Akhirnya, dia hanya berani menceritakannya kepada ibunya.

Sang ibu berkata: “Kalau itu benar-benar mimpimu, berarti kamu anak yang berbakat. Aku pernah mendengar, ketika Tuhan menaruh sebuah mimpi yang tampak mustahil di hati seseorang, itu artinya Tuhan sungguh ingin menolong orang tersebut untuk mewujudkannya.”

Anak itu belum pernah mendengar hubungan antara mimpi dan Tuhan seperti itu. Namun setelah ibunya berkata demikian, dia langsung mempercayainya. Dia merasa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia—di tengah dunia yang begitu luas, Tuhan seolah-olah memilih dirinya secara khusus.

Agar tidak mengecewakan harapan Tuhan, sejak saat itu dia benar-benar jatuh cinta pada dunia menulis.

“Jika aku sanggup melewati ujian, Tuhan pasti akan datang membantuku.”

 Dengan keyakinan itulah dia memulai perjalanan menulisnya.

Tiga tahun berlalu, Tuhan belum datang. Tiga tahun berikutnya berlalu lagi, Tuhan tetap belum datang.

Ketika dia masih menantikan pertolongan Tuhan, justru pasukan Hitler yang lebih dulu datang. Sebagai seorang Yahudi, dia dikirim ke kamp konsentrasi. Di tempat itu, jutaan orang kehilangan nyawa. Namun dia berhasil bertahan hidup dengan keyakinan bahwa “hidup adalah tentang menerima dan bertahan”.

“Aku bisa kembali menekuni profesi impianku,” pikirnya, ketika dia melangkah keluar dari Auschwitz.

Pada tahun 1965, dia akhirnya menulis novel pertamanya, Fatelessness (Sorstalanság).

Setelah itu, dia terus melahirkan karya demi karya.

Ketika dia sudah tidak lagi memikirkan apakah Tuhan akan menolongnya atau tidak, Swedish Academy mengumumkan: Hadiah Nobel Sastra tahun 2002 diberikan kepada penulis Hungaria, Imre Kertész.

Dia terperanjat, karena nama yang disebut itu persis adalah namanya sendiri.

Ketika orang-orang meminta penulis yang sebelumnya nyaris tak dikenal ini untuk mengungkapkan perasaannya setelah meraih penghargaan tertinggi tersebut, ia hanya berkata dengan tenang :  “Aku tidak merasakan apa-apa yang istimewa. Aku hanya tahu satu hal: ketika kamu berkata, ‘Aku memang suka melakukan ini, seberat apa pun kesulitannya aku tidak peduli,’ maka Tuhan akan meluangkan waktu untuk membantumu.”

Hikmah cerita:

Setiap mimpi mendapat pertolongan Tuhan.

Di abad baru ini, Imre Kertész menjadi bukti pertama.Kelak akan ada bukti kedua, ketiga—dan mereka tersembunyi di antara orang-orang yang berani bermimpi.

Lalu, apakah orang itu sedang membaca kisah ini sekarang… adalah kamu?(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Tarik Utang Rp744 Triliun, Ada Sisa Lebih Pembiayaan Rp48,9 Triliun
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Banjir Bandang Pulau Siau Bertambah Jadi 17 Orang, Dua Masih Hilang
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Batam Salurkan Bantuan Rp4,7 Miliar untuk Korban Bencana Sumatera Utara, Bobby Nasution Sampaikan Apresiasi
• 1 jam lalupantau.com
thumb
BNPB Targetkan Seluruh Korban Banjir Sumbar Tempati Huntara Sebelum Ramadan
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pengacara Icel Bantah Klaim Anrez Adelio soal Tanggung Jawab Kehamilan Kliennya
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.