jpnn.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri mengungkap ciri-ciri anak yang terpapar paham ekstremisme di dalam true crime community (TCC).
Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana menyebut ciri pertama adalah ditemukan simbol maupun nama pelaku kekerasan pada barang pribadi milik anak.
BACA JUGA: Guru Honorer Non-Database Diminta Jangan Menolak Program Ini, Mungkin Jadi Solusi
"Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya," kata Kombes Mayndra, di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Ciri berikutnya, anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri untuk berlama-lama mengakses komunitas tersebut.
BACA JUGA: Viral Video Mesum di Pos Polisi Tulungagung, AKP Taufik Bilang Begini
Kemudian, anak suka menirukan tokoh atau idola di dalam komunitas true crime.
"Ini sudah terbukti. Pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH (anak berhadapan hukum) yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari unggahannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya," tuturnya.
BACA JUGA: Setelah Buka-bukaan soal Kekayaan, Nadiem Bingung dengan Dakwaan
Berikutnya, anak menyukai konten kekerasan dan sadistis yang dinilai tidak normal.
"Jadi, kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering diunggah di komunitas tersebut," ucapnya.
Ciri berikutnya adalah anak marah berlebihan jika gawainya dilihat orang lain. Dia mengatakan anak menganggap konten yang diakses merupakan privasi sehingga marah jika gawainya dilihat orang lain.
Ciri terakhir adalah anak membawa senjata api replika dan pisau. "Kerap kadang dia bawa ke sekolah untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan," tuturnya.
Densus 88 AT Polri mengungkapkan terdapat 70 anak yang tergabung dalam grup true crime community yang mengandung konten kekerasan.
Puluhan anak tersebut tersebar di 19 provinsi yang mana provinsi yang terbanyak, yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang.
Untuk sebaran usia, anak-anak tersebut berusia rentang dari 11 sampai 18 tahun.
Terhadap 70 anak tersebut, sebanyak 67 anak telah dilakukan intervensi melalui asesmen, pemetaan, konseling, dan upaya lainnya oleh Densus 88 yang dengan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan.(ant/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam



:strip_icc()/kly-media-production/medias/3655011/original/069999900_1638856317-20211207-Banjir-Rob-Pelabuhan-Sunda-Kelapa-2.jpg)