Yogyakarta: Yogyakarta menjadi tuan rumah perhelatan internasional generasi muda dalam bidang diplomasi dan kepemimpinan. Konferensi Global Millennial Model United Nations (GM MUN) 2026 sukses mempertemukan ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara dalam sebuah simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinamis. Kegiatan ini berlangsung di Royal Ambarrukmo Hotel, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2–4 Januari 2026.
Lebih dari 500 peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa yang berasal dari 10 negara berpartisipasi dalam konferensi bergengsi ini. Jumlah tersebut menjadikan GM MUN 2026 sebagai salah satu forum Model United Nations (MUN) internasional dengan partisipasi terbesar di Indonesia untuk kategori peserta pemula hingga tingkat lanjutan. Pencapaian ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan diplomasi pemuda di kancah global.
GM MUN 2026 diselenggarakan oleh Globy, sebuah lembaga pembinaan yang berfokus pada pengembangan kapasitas pelajar dan mahasiswa untuk berkompetisi di level internasional. Forum ini dirancang sebagai laboratorium belajar yang strategis untuk melatih kemampuan diplomasi, kepemimpinan, berpikir kritis, serta pemahaman mendalam tentang isu-isu global secara aplikatif.
“Pengalaman MUN bukan hanya soal simulasi sidang, tetapi juga rekam jejak prestasi. Banyak peserta memanfaatkan sertifikat GM MUN sebagai nilai tambah saat mendaftar ke universitas top dunia, beasiswa, hingga jalur SNBP. Kami ingin membuka akses agar pelajar Indonesia semakin percaya diri bersaing di tingkat global,” ujar Founder & CEO Globy, Muflih Dwi Fikri.
Pendekatan Inklusif dengan Standar InternasionalKeunikan GM MUN 2026 terletak pada pendekatannya yang beginner-friendly, namun tetap mempertahankan standar akademik internasional yang tinggi. Forum ini resmi dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Riset, dan Teknologi, sehingga memiliki legitimasi kuat sebagai kegiatan pengembangan prestasi pelajar nasional.
Peserta dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan jenjang usia. Junior Level (di bawah 15 tahun), Senior Level (15–18 tahun), dan Open Level (di bawah 30 tahun). Selama tiga hari, para delegasi terjun langsung dalam simulasi sidang PBB, forum diskusi internasional, hingga program pertukaran budaya yang kaya akan nilai-nilai lokal.
Salah satu agenda budaya yang diselipkan adalah Ladosan Dhahar, sebuah tradisi penyajian makanan khas bangsawan Keraton Yogyakarta. Aktivitas ini menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif, memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia sekaligus memperkuat interaksi sosial lintas negara di antara peserta.
Nuansa global forum semakin terasa dengan kehadiran delegasi dan dewan juri dari berbagai penjuru dunia, seperti Italia, Lebanon, Singapura, Filipina, dan negara-negara lainnya. Keberagaman latar belakang ini menciptakan dinamika diskusi yang autentik, mencerminkan praktik diplomasi multikultural yang sesungguhnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas dan performa peserta, panitia memberikan sejumlah penghargaan bergengsi. Penghargaan tersebut antara lain Best Delegate, Most Outstanding Delegate, Honorable Mention, Diplomatic Commendation, dan Best Position Paper.
Salah satu Chair sidang asal Lebanon, Roy El Badawi, mengapresiasi tinggi antusiasme dan perkembangan peserta. “Kembali ke Indonesia selalu menghadirkan rasa antusias dan kebahagiaan bagi saya. Energi di dalam forum sangat luar biasa dan menginspirasi melihat begitu banyak delegasi terlibat aktif,” ujar Roy.
“Saya juga penasaran melihat perkembangan para delegasi sejak Oktober, bagaimana mereka menerima masukan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru. MUN bukan sekadar berdebat tanpa henti, tetapi tentang menjaga sikap, bekerja dalam tim, dan menciptakan lingkungan yang kolaboratif,” ujarnya.
Prestasi gemilang berhasil diraih oleh delegasi internasional, Maria Marcela Binti Ridwan, 18, dari Sunway College, Malaysia. Mewakili negaranya di komite Human Rights Council-Chamber One, Maria berhasil menyabet penghargaan tertinggi Best Delegate berkat konsistensi, persiapan matang, dan kualitas performanya yang luar biasa.
Menurut Maria, kepercayaan diri dan ketekunan menjadi kunci utama meraih keberhasilan di forum bergengsi semacam ini. Ia berharap pengalamannya dapat memotivasi generasi muda lainnya untuk berani mengambil peran di panggung global.
“Kepada seluruh delegasi, selalu percayalah pada diri sendiri dan jangan pernah menyerah. Saya sempat merasa gugup dan meragukan diri sendiri di awal, tetapi ketekunan benar-benar membawa perbedaan. Bahkan di forum besar, jika kita konsisten, berusaha maksimal, dan menjaga pola pikir positif, hal-hal baik bisa terjadi,” beber Maria.
Keberhasilan penyelenggaraan GM MUN 2026 di Yogyakarta mempertegas komitmen Globy dalam membangun ekosistem diplomasi muda yang berkelanjutan. Forum ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam menyiapkan calon-calon pemimpin dan diplomat masa depan yang kompeten dan berkarakter.
Kegiatan ini juga secara nyata memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah yang kompeten dan inspiratif bagi forum-forum diplomasi pemuda berskala internasional. Menandai kesuksesan ini, Global Millennial Model United Nations telah dijadwalkan akan kembali digelar pada 12–14 Juni 2026 mendatang di Jakarta, dengan target partisipasi yang lebih luas dan dampak yang semakin mendalam bagi generasi muda dunia.



