Jakarta, ERANASIONAL.COM – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia memasuki fase berbahaya baru di awal Januari 2026 setelah angkatan laut AS berhasil menyita sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang terkait dengan perdagangan minyak Venezuela di Samudera Atlantik. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, dan telah memicu kecaman keras dari Moskow yang menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran hukum maritim atau bahkan perompakan bersenjata.
Pada 7 Januari 2026, pasukan AS, bekerja sama dengan Coast Guard dan militer, memburu dan akhirnya mengambil alih sebuah tanker bermuatan minyak yang sebelumnya dikenal sebagai Bella-1 setelah pengejaran yang berlangsung selama lebih dari dua minggu melintasi Laut Karibia hingga ke Atlantik Utara. Kapal tersebut telah dipindahkan benderanya menjadi Rusia dan kini dikenal sebagai Marinera.
Menurut pernyataan dari komando militer AS, penyitaan dilakukan berdasarkan surat perintah pengadilan federal Amerika Serikat, dengan argumen bahwa kapal itu melanggar sanksi ekonomi terkait jaringan ”dark fleet” yang mengangkut minyak dari Venezuela ke berbagai tujuan secara ilegal.
Sementara itu AS juga dilaporkan telah menyita kapal lain di Karibia yang diduga terlibat dalam pelanggaran sanksi. Pemerintah Washington menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menegakkan blokade terhadap ekspor minyak Venezuela yang menurut AS mendukung kegiatan ilegal dan ancaman keamanan regional.
Menanggapi penyitaan tersebut, Rusia secara tegas mengecam tindakan AS, menyatakan bahwa mengambil alih kapal yang beroperasi di perairan internasional di laut lepas tanpa persetujuan negara pemilik adalah tindakan yang mencederai hukum laut internasional. Kota Moskow melalui Kementerian Transportasinya juga menegaskan bahwa Marinera sempat menerima izin sementara untuk berlayar di bawah bendera Rusia sebelum kehilangan kontak dengan pihaknya.
Seorang anggota parlemen Rusia bahkan menyebut tindakan AS tersebut sebagai “perompakan luar biasa” karena menurutnya AS menggunakan kekuatan militer terhadap kapal yang secara sah terdaftar di bawah hukum negara lain. Tuduhan ini memperburuk hubungan yang sudah tegang antara kedua kekuatan besar dunia tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah krisis besar di Venezuela. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah AS telah melancarkan operasi yang tidak terduga, termasuk penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro dan klaim bahwa Washington sekarang bermaksud memanfaatkan sumber daya minyak Venezuela secara langsung untuk pasar global. Pemerintah AS bahkan menyatakan rencana untuk mengendalikan hingga puluhan juta barel minyak Venezuela demi kepentingan ekonomi dan stabilitas pasokan energi internasional.
Langkah ini tentu memiliki dampak luas. Venezuela adalah salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, dan kedekatannya dengan Rusia yang secara tradisional menjadi sekutu kuat Caracas membuat konflik ini menjadi lebih dari sekadar persoalan satu kapal. Rusia sendiri telah memberikan perlindungan bendera kepada puluhan kapal tanker lain di armada bayangan global yang melayani negara-negara yang dikenai sanksi seperti Venezuela dan Iran, sebagai bentuk strategi untuk mempertahankan pengaruhnya di sektor energi dunia.
Meski konflik ini belum berubah menjadi konfrontasi militer langsung antara Rusia dan AS, peristiwa penyitaan Marinera menunjukkan bahwa hubungan kedua negara dapat dengan cepat memburuk dalam konteks persaingan strategis global terutama ketika melibatkan kepentingan energi, hukum internasional, dan kekuatan militer di laut lepas.
Beberapa analis menilai bahwa operasi AS yang intensif di kawasan tersebut juga berkaitan dengan upaya untuk mengalihkan perhatian Rusia dari konflik di Eropa Timur, khususnya di Ukraina, serta untuk menekan sekutu-sekutu Moskow di Amerika Latin. Sementara itu, Moskow melihat tindakan Washington sebagai bentuk tekanan yang berlebihan dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain.
Penyitaan tanker dan ketegangan yang meningkat dapat memiliki dampak signifikan terhadap pasar minyak global. Ketidakstabilan di kawasan Amerika Latin, dikombinasikan dengan risiko eskalasi militer, dapat memicu volatilitas harga minyak serta merubah aliansi strategis antara negara-negara produsen minyak.
Sementara itu, hubungan AS–Rusia yang sudah berada pada titik rendah berkaitan dengan ketegangan di Eropa dan Timur Tengah kini menghadapi ujian lebih lanjut di Samudera Atlantik. Bagaimana kedua negara besar ini mengelola konflik ini di masa depan bisa menjadi indikator penting bagi stabilitas geopolitik global pada era pasca-pandemi dan di tengah persaingan kekuatan besar yang semakin tajam.


