JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri mengungkapkan penanganan puluhan anak yang terpapar konten kekerasan berujung ekstremisme. Konten itu berasal dari grup media sosial bernama True Crime Community (TCC) yang berjejaring global.
Dari intervensi tersebut, kepolisian menggagalkan rencana aksi kekerasan anak di sejumlah daerah pada 2025 lalu, mulai dari Jepara, Jawa Tengah, hingga Singkawang, Kalimantan Barat.
Saat diinterogasi penyidik, didapati rencana aksi yang berhasil digagalkan menyasar perusakan fasilitas umum dan kekerasan terhadap individu yang berpotensi besar berujung kematian.
"Ada juga yang ingin melakukan penusukan di sekolah. Dan sasaran penusukannya adalah pem-bully di sekolah. Dari wawancara yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas," ujar Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana di Bareskrim Polri, Rabu (7/1/2026).
Dari temuan penyidik, mereka yang digagalkan aksi kekerasannya belajar banyak untuk beraksi dari grup TCC, seperti membuat bom, salah satunya bom pipa. "Mengajarkan kepada member grup untuk membuat peluru. Ikut serta dalam pembicaraan bagaimana membuat pipa menjadi barang yang berbahaya dan mematikan," kata dia.
Mayndra menguraikan pengungkapan pertama terjadi di Jepara. Di sana, satu orang anak terpapar konten dan materi kekerasan dari akun media sosial TCC.
"Ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah, kemudian ingin mengunggah juga di komunitas mereka gitu ya. Dan ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jateng," kata dia.
Lebih lanjut, Mayndra mengemukakan Densus 88 menggagalkan rencana aksi kekerasan serupa di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 8 Desember 2025. Sama dengan temuan di Pati, anak ini pula terpapar muatan konten kekerasan dari TCC.
Kepolisian juga menggagalkan rencana aksi kekerasan dari paham yang sama di Jawa Timur pada 17 Desember 2025. "Ditemukan benda-benda yang identik dengan kekerasan. Dan di sini kita bisa menyimpulkan bahwa walaupun tidak bertemu antarmuka, anak-anak ini memiliki kemiripan dalam berperilaku," ujar dia.
Perlu diketahui, grup TCC di media sosial dibentuk dan diorganisasi secara sporadis atau tanpa komando pihak tertentu. Densus 88 Polri mengidentifikasi grup yang berbasis di media sosial ini ditujukan untuk kalangan remaja dan mulai eksis sejak 2025.
Muatan propaganda kekerasan dikemas dalam video pendek, animasi, meme, hingga musik yang membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi atau paham ekstremisme sebagai inspirasi.
Original Article



