Beberapa hari belakangan, sampah menjadi pemandangan yang lumrah Khoirul (28) saksikan setiap berangkat kerja. Pria asal Pamulang ini harus melewati tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah titik di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Salah satu gunungan sampah yang harus ia lewati berada di depan Pasar Cimanggis, Jalan Otista Raya.
Tumpukan sampah itu menggunung dengan tinggi sekitar 3 meter. Tinggi tumpukan sampah ini hampir menyamai atap Pasar Cimanggis. Sampah yang terus menumpuk di satu titik itu mulai meluber dan menutup satu ruas jalan. Akibatnya, warga yang melintas di Jalan Otista Raya harus menghadapi kemacetan bercampur bau sampah yang menyengat.
Khoirul yang selalu melintasi Jalan Otista Raya saat berangkat kerja sangat terganggu dengan aroma busuk yang menembus masker yang ia gunakan. Untung saja hari itu hujan tidak turun. Jika hujan turun sejak pagi, bukan hanya bau sampah yang menyengat, sampah yang menggunung juga terkadang jatuh berceceran ke jalan.
Khoirul berharap permasalah sampah di Kota Tangsel ini segera diselesaikan pemerintah. Ia meminta penyelesaian yang konkret, bukan hanya penyelesaian sementara yang nanti akan terulang kembali.
”Semoga pemerintah bisa beresin ini dengan cepat ya, jangan ditutup pakai terpal juga (sampahnya),” ujar Khoirul, Rabu (7/1/2026).
Tumpukan sampah yang melebihi kapasitas itu juga terjadi di depan Pasar Jombang, Jalan Jombang Raya, Ciputat, Tangsel. Selain mengganggu masyarakat yang melintas, tumpukan sampah itu juga merugikan pedagang yang berjualan di sekitar pasar. Selain bau menyengat, belatung pun mulai muncul dari tumpukan sampah sehingga membuat warga yang melintas ataupun beraktivitas di kawasan tersebut resah.
Nurul (30) yang hampir setiap hari berbelanja harus terpaksa berdamai dengan bau busuk yang menyengat. Menurut dia, sampah mulai kembali menumpuk sejak awal Januari 2026. Walaupun sampah sudah menumpuk, beberapa warga hingga pedagang masih tetap membuang sampah ke tempat itu.
”Tapi, mau bagaimana lagi, setiap hari mereka menghasilkan sampah, mereka (pedagang) juga bingung mau dibuang ke mana sampahnya kalau bukan ke tumpukan itu,” ucap Nurul.
Sejak pertengahan Desember 2025, Tangsel dihantui darurat sampah yang terus menumpuk. Pemerintah Kota Tangsel bahkan sampai menetapkan status tanggap darurat sampah sejak 23 Desember 2025 sampai 5 Januari 2026. Walaupun telah melewati status tanggap darurat, pada kenyataannya sampah masih menumpuk di sejumlah titik di Tangsel.
Ledakan sampah yang melanda Kota Tangsel ini tak lepas dari penutupan sementara Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang. Tempat pembuangan utama sampah di Tangsel ini ditutup sementara karena telah melebihi kapasitas serta dalam tahap perbaikan konstruksi timbulan sampah.
Sebenarnya, tanda-tanda TPA Cipeucang penuh dengan gunungan sampah sudah terlihat sejak tahun 2020. Tumpukan sampah menyebabkan turap penyangga TPA jebol. Longsoran sampah menyumbat saluran air dan menimbulkan banjir dan membuat warga protes. TPA Cipeucang hanya mampu mengelola 400 ton sampah per hari, sedangkan sampah per hari mencapai 1.100 ton.
Ledakan sampah di Tangsel ini menjadi contoh kesekian kali kota-kota di Indonesia yang masih belum mampu mengelola sampah dari hulu hingga hilir dengan baik. Jika permasalahan sampah ini terus dikesampingkan oleh pemerintah pusat ataupun daerah, bukan tidak mungkin bom waktu sampah akan meledak di kota-kota lainnya.




