Indeks saham utama Wall Street Amerika Serikat (AS) didominasi lesu pada perdagangan Rabu (7/1). S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average turun dari level rekor seiring terkoreksinya sektor-sektor yang sebelumnya memimpin penguatan di awal tahun.
S&P 500 tergelincir 0,34% dan ditutup di level 6.920,93 dan Dow Jones merosot 466 poin atau 0,94% ke posisi 48.996,08. Kedua indeks sempat mencetak rekor tertinggi intraday sebelum berbalik melemah. Di sisi lain, Nasdaq Composite naik 0,16% dan ditutup di 23.584,27.
Adapun sektor keuangan dan energi paling tertekan dengan masing-masing turun lebih dari 1%. Saham perbankan, seperti JPMorgan, Bank of America, dan Wells Fargo, ditutup di zona merah. Saham energi, dipimpin Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips juga terpantau turun.
Pernyataan Donald Trump turut menekan pasar pada perdagangan Rabu. Trump menegaskan tidak akan mengizinkan perusahaan pertahanan membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham hingga perusahaan-perusahaan tersebut menanggapi kritiknya terhadap industri tersebut. Komentar itu langsung menekan saham-saham sektor pertahanan.
Trump juga menyatakan pemerintah AS akan melarang investor institusional besar membeli tambahan rumah tapak. Kebijakan tersebut membebani saham perusahaan ekuitas swasta, termasuk Blackstone dan Apollo Global Management.
Saham perusahaan pengolah minyak justru menguat. Valero Energy naik sekitar 3%, sementara Marathon Petroleum menguat lebih dari 1%. Penguatan ini usai sumber penjualan minyak Venezuela ke pasar global akan berlanjut tanpa batas waktu dan sanksi terhadap negara tersebut akan dilonggarkan.
Di sisi lain harga minyak mentah ikut melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan otoritas sementara Venezuela akan menyalurkan hingga 50 juta barel minyak ke AS. Hal itu memicu kekhawatiran meningkatnya pasokan global.
Manajer Portofolio Senior Globalt Investments, Keith Buchanan, menilai pergerakan harga minyak mentah yang relatif datar mencerminkan keyakinan pasar bahwa kondisi pasokan dan permintaan global masih longgar.
“Ada risiko signifikan kelebihan pasokan,” ucap Buchanan dikutip CNBC, Kamis (8/1).
Meski harga minyak melanjutkan pelemahan sejak Selasa, pasar saham justru menguat pada perdagangan sebelumnya. Investor dinilai mengabaikan kekhawatiran atas potensi dampak serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela yang terjadi pada akhir pekan.
Buchanan mengatakan dinamika geopolitik di Amerika Selatan belum mengubah prospek pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dari sudut pandang pasar saham.
“Kami melihat ada kecenderungan pasar meremehkan peningkatan risiko geopolitik. Namun, perkembangan di Venezuela sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap pasar,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan kondisi global masih rentan dan penuh ketidakpastian.



