Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan mengendalikan penjualan minyak Venezuela dan menampung seluruh hasilnya di rekening Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi membawa kembali minyak negara tersebut ke pasar global.
Menteri Energi AS Chris Wright, yang berbicara dalam konferensi Goldman Sachs Group Inc. di Miami pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat), mengatakan tahap awal penjualan akan memanfaatkan minyak mentah Venezuela yang saat ini tersimpan di fasilitas penyimpanan. Stok tersebut terus menumpuk akibat blokade AS dan berisiko memaksa penghentian sebagian produksi.
“Kami hanya akan menggerakkan kembali minyak mentah itu dan menjualnya. Kami akan memasarkan minyak dari Venezuela—pertama dari stok yang menumpuk ini, lalu secara berkelanjutan kami akan menjual produksi yang keluar dari Venezuela," ujar Wright dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/1/2026).
Rencana tersebut sejalan dengan dorongan pemerintahan Trump agar perusahaan energi AS membangun kembali infrastruktur minyak Venezuela yang telah lama terbengkalai dan menghidupkan kembali produksi yang merosot. Kementerian Energi AS menyebutkan, Washington juga mulai melonggarkan sanksi sektor minyak Venezuela secara selektif sebagai bagian dari upaya tersebut.
Presiden Trump pada Selasa malam mengatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS untuk dijual, dengan nilai sekitar US$2,8 miliar berdasarkan harga pasar saat ini.
Gedung Putih menyatakan AS telah mulai memasarkan minyak mentah Venezuela. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan hasil penjualan akan disimpan di rekening Departemen Keuangan AS.
Baca Juga
- Trump Klaim Venezuela Bakal Serahkan 50 Juta Barel Minyak ke AS
- Trump Kaji Strategi Caplok Greenland, Operasi Militer Jadi Opsi
- Tekanan Trump, Venezuela Alihkan Ekspor US$2 Miliar Minyak dari China ke AS!
Menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, langkah ini bertujuan melindungi hasil penjualan dari klaim para kreditur Venezuela. Leavitt menegaskan dana tersebut akan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat AS dan Venezuela.
“Kami tidak mencuri minyak siapa pun. Kami akan memulai kembali penjualan minyak Venezuela di pasar global, menempatkan dananya atas nama Venezuela, lalu mengembalikannya ke Venezuela untuk kepentingan rakyatnya," ujar Wright.
Wright menambahkan, hasil penjualan minyak Venezuela pada tahap awal tidak akan digunakan untuk membayar klaim Exxon Mobil Corp., ConocoPhillips, maupun perusahaan AS lainnya yang asetnya dinasionalisasi oleh pemerintahan Hugo Chávez pada pertengahan 2000-an. Menurutnya, kompensasi bagi perusahaan-perusahaan tersebut tetap diperlukan, namun merupakan isu jangka panjang.
Perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), dalam pernyataannya menyebut tengah bernegosiasi dengan Washington mengenai penjualan minyak melalui skema yang mirip dengan pengaturan bersama Chevron Corp.—satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Sebelumnya, pasukan AS menyita dua kapal tanker minyak tambahan yang dikenai sanksi, termasuk satu kapal berbendera Rusia, seiring upaya pemerintahan Trump mengendalikan seluruh ekspor minyak Venezuela.
Salah satu kapal disita di Samudra Atlantik selatan Islandia, sementara satu lainnya ditahan di kawasan Karibia.
Trump juga mendorong perusahaan minyak AS seperti Chevron, ConocoPhillips, dan Exxon untuk membangun kembali infrastruktur minyak Venezuela dan meningkatkan produksi, menyusul penggulingan Presiden Nicolás Maduro.
Pemerintah AS disebut telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan energi, dan Trump dijadwalkan bertemu para eksekutif sektor energi pada Jumat.
“Ini adalah pertemuan untuk membahas peluang besar yang kini terbuka bagi perusahaan-perusahaan minyak tersebut,” ujar Leavitt.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga disebut berpotensi menghadiri pertemuan tersebut.
Sektor minyak Venezuela telah lama terpuruk akibat korupsi, minim investasi, dan salah kelola, dengan produksi saat ini berada di bawah 1 juta barel per hari. Wright memperkirakan output dapat ditingkatkan beberapa ratus ribu barel per hari dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, Francisco Monaldi, Direktur Kebijakan Energi Amerika Latin di Baker Institute for Public Policy, Rice University mengatakan, untuk mengembalikan industri minyak Venezuela ke masa kejayaannya akan membutuhkan investasi besar, dengan estimasi biaya sekitar US$10 miliar per tahun selama satu dekade ke depan.
Sejauh ini, perusahaan minyak AS masih enggan menyatakan secara terbuka kesediaan mereka untuk terlibat.
Meski Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, investor menilai stabilitas pemerintahan dan kepastian dukungan Washington dalam jangka panjang menjadi prasyarat utama sebelum melakukan investasi besar-besaran.



