Jakarta, VIVA – Bursa Asia-Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Kamis, 8 Januari 2026. Fluktuasi indeks di kawasan ini menyusul koreksi di bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, akibat meningkatkan ketegangan geopolitik serta pernyataan keras Presiden AS Donald Trump larang emiten sektor pertahanan melakukan aksi korporasi.
Trump 'mengembargo' saham-saham di sektor pertahanan untuk membagikan dividen dan melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Langkah ini diambil karena Trump menerima keluhan terkait paket gaji eksekutif dan masalah produksi.
Ia juga memerintahkan otoritas AS sementara di Venezuela akan menyerahkan sebanyak 50 juta barel ke New York. Sontak menimbulkan kekhawatiran pasar tentang peningatan pasokan global yang menyebabkan harga minyak mentah dunia bergejolak
Minya mentah Brent merosot 0,51 persen menjadi US$60,39 per barel pada pukul 7.30 pagi waktu Singapura. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 0,61 persen menjadi US$56,33 per barel.
- VIVA.co.id/Anisa Aulia
Dikutip dari CNBC Internasional, indeks acuan Jepang, Nikkei 225, melemah 0,46 persen. Indeks Topix merosot 0,27 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat tipis 0,12 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil naik 0,1 persen.
Indeks acuan Australia, ASX/S&P 200, melonjak 0,21 persen. Meski demikian, sahan BlueScope Steel anjlok 2,54 persen setelah perusahaan menolak tawaran akuisisi senilai US$9 miliar dari perusahaan konglomerasi Australia, SGH dan Steel Dynamics, yang berbasis di AS.
Indeks S&P 500 dan Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) tergerus sekaligus mengakhiri tren positif selama tiga hari. Indeks acuan Wall Street melemah 0,3 persen sementara indeks DJIA menyusut 0,9 persen.
Nasdaq Composite melonjak hampir 0,2 persen sejalan kenaikan saham induk Google, Alphabet, sebesar 2,4 persen. Penguatan menyebakan kapitalisasi pasar perusahaan melampaui Apple untuk pertama kalinya sejak tahun 2019.



