Saham PT Timah Tbk (TINS) kembali diperbincangkan jelang rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI Februari. Masuknya TINS ke radar indeks global ini berpotensi memengaruhi aliran dana asing dan pergerakan saham ke depan.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten pelat merah PT Timah Tbk (TINS) bergeliat menjelang review indeks bergensi tersebut. Sahamnya terpantau sudah melonjak 249% dalam setahun terakhir dan menguat 13,50% sejak awal tahun ini.
Adapun TINS sempat gagal lolos dalam rebalancing indeks MSCI pada November 2025. Hal itu lantaran TINS pernah masuk papan pantauan khusus atau full call auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau melalui Watchlist Board. Status TINS yang terkena FCA dinilai memenuhi Kriteria 10, sebagaimana tercantum dalam metodologi MSCI Global Investable Market Indexes.
Lalu apakah ada peluang TINS masuk ke dalam MSCI periode Februari 2026?
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai TINS memiliki potensi jangka menengah untuk masuk radar MSCI, terutama jika harga timah terus membaik dan kapitalisasi pasarnya meningkat.
Ia juga menilai TINS punya daya tarik tematik bagi investor asing terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap rantai pasok logam strategis. Namun, secara relatif, kesiapan TINS untuk masuk MSCI masih di bawah PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
“Tantangan utama TINS saat ini bukan pada fundamental bisnis, melainkan pada aspek effective foreign investability,” ucap Imam kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai TINS masih berpeluang masuk MSCI jika harga timah tetap tinggi, kinerja laba membaik signifikan, dan free float efektif meningkat. Namun, peluang tersebut diperkirakan terjadi secara bertahap.
“Tantangan TINS ada pada volatilitas komoditas, struktur biaya, dan konsistensi profit,” kata Liza kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).
TINS Batal Masuk Indeks MSCI Small CapTINS sebelumnya batal masuk dalam konstituen MSCI Global Small Cap Indexes pada tinjauan periode November 2025. Padahal MSCI sempat mengumumkan TINS sebagai salah satu dari tujuh emiten asal Indonesia yang masuk list untuk periode November 2025.
Mengutip pengumuman resmi MSCI, pengelola indeks global tersebut menyatakan saham TINS diklasifikasikan sebagai bagian dari Ineligible Alert Board. Klasifikasi itu muncul lantaran TINS pernah masuk papan pantauan khusus atau full call auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau melalui Watchlist Board. Status TINS yang terkena FCA dinilai memenuhi Kriteria 10, sebagaimana tercantum dalam metodologi MSCI Global Investable Market Indexes.
Kriteria 10 mengacu pada saham dengan catatan khusus akibat suspensi lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan. Atas alasan itu, MSCI tidak dapat menambahkan TINS ke dalam indeksnya karena pada saat peninjauan, saham tersebut masih berada dalam FCA.
“Dengan demikian, sekuritas yang disebutkan di atas tidak akan dimasukkan ke dalam indeks MSCI sebagai bagian dari Index Review November 2025,” demikian tertulis dalam keterangan MSCI pada November 2025 lalu.
Merujuk pengumuman resmi BEI, saham TINS sempat disuspensi dan kemudian masuk dalam papan pemantauan khusus atau FCA. Status itu disematkan pada 20 Oktober dan berakhir pada 30 Oktober 2025.
“[Status FCA] Dikarenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan aktivitas perdagangan,” demikian pengumuman resmi BEI.




