Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis, 8 Januari 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut seiring sentimen domestik dan eksternal yang membayangi pergerakan pasar.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.785 per dolar AS atau terdepresiasi 0,09%. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya, di mana rupiah terkoreksi 0,15% dan ditutup di posisi Rp16.770 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah telah melemah selama empat hari perdagangan berturut-turut sejak awal 2026.
Dolar AS Menguat Tipis
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,07% ke level 98,757. Pergerakan dolar yang relatif stabil turut memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar Menanti Paparan APBN KiTa
Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 yang dijadwalkan berlangsung Kamis siang pukul 13.30 WIB. Dalam agenda tersebut, pemerintah akan memaparkan realisasi penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025.
Baca Juga: AS Kendalikan Penjualan Minyak Venezuela Tanpa Batas
Realisasi pendapatan negara, khususnya penerimaan pajak, menjadi salah satu fokus utama pasar. Data tersebut dinilai mencerminkan kemampuan pemerintah dalam menjaga kinerja fiskal di tengah perlambatan ekonomi domestik maupun global. Pelaku pasar juga mencermati potensi terjadinya shortfall penerimaan pajak sepanjang 2025.
Belanja Negara dan Pembiayaan Utang Disorot
Selain pendapatan, realisasi belanja pemerintah juga menjadi perhatian, terutama untuk program prioritas seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), belanja subsidi, serta bantuan sosial. Di sisi lain, realisasi pembiayaan utang sepanjang 2025 turut dicermati mengingat perannya dalam menopang defisit anggaran.
Sebagai catatan, hingga November 2025, defisit APBN tercatat mencapai Rp560,3 triliun atau sekitar 2,35% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut mendekati target defisit APBN 2025 yang dipatok sebesar 2,48% dari PDB.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS yang cenderung stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pasar global saat ini tengah mencermati rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Kombinasi faktor domestik dan global tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi volatilitas rupiah dalam jangka pendek.
Editor: Redaktur TVRINews



