Setelah Venezuela, Apakah Amerika akan Melakukan Hal yang Sama kepada Iran?

kompas.com
23 jam lalu
Cover Berita

DUNIA baru saja menyaksikan sebuah drama geopolitik yang paling mendebarkan di awal tahun 2026. "Operasi Absolute Resolve" yang dilancarkan Amerika Serikat di Venezuela, yang berakhir dengan penangkapan dramatis Nicolás Maduro, dan sejatinya bukan lagi sekedar urusan belahan bumi Barat (western hemisphere).

Di balik kepulan asap di Caracas, ada pesan yang dikirimkan melalui serat optik dan satelit militer, mendarat tepat di meja kerja para petinggi di Teheran. Bagi Iran, jatuhnya Maduro adalah cerminan geostrategis yang cukup mengkhawatirkan.

Selama lebih dari satu dekade, Venezuela dan Iran telah membangun simpul persaudaraan berdasarkan satu musuh bersama, yakni hegemoni Amerika. Kedua negara saling berinteraksi, mulai dari minyak, emas, hingga teknologi militer untuk mengakali sanksi ekonomi dari Paman Sam.

Namun, ketika "benteng" di Amerika Latin itu jebol hanya dalam hitungan jam oleh operasi kilat pasukan khusus Pentagon, mau tak mau Teheran kini dipaksa menghadapi kenyataan pahit baru. Aksi militer Amerika di Venezuela adalah intimidasi psikologis yang dirancang secara presisi. Washington seolah ingin mengatakan bahwa status sebagai kepala negara berdaulat bukan lagi "kartu bebas penjara" jika berhadapan dengan kepentingan nasional Amerika.

Pesan ini tentu bukan sekadar ancaman lisan, tapi demonstrasi kemampuan yang menunjukkan bahwa tidak ada bunker yang terlalu dalam atau pengawal yang terlalu setia untuk ditembus oleh intelijen Amerika.

Namun, di tengah keriuhan ini, kita tentu perlu melihat situasinya dengan jernih. Meskipun Caracas dan Teheran berbagi retorika anti-Amerika, kalkulasi militer untuk keduanya berada pada dimensi yang sama sekali berbeda. Amerika boleh saja beranggapan telah memenangkan satu ronde di Venezuela, tetapi mencoba melakukan hal yang sama di Iran akan seperti berpindah dari permainan catur di taman ke medan perang nyata yang berpotensi membakar seluruh papan permainan.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Iran, Teheran, serangan as ke venezuela, ancaman as ke iran&post-url=aHR0cHM6Ly9pbnRlcm5hc2lvbmFsLmtvbXBhcy5jb20vcmVhZC8yMDI2LzAxLzA4LzExMDk1MjUxL3NldGVsYWgtdmVuZXp1ZWxhLWFwYWthaC1hbWVyaWthLWFrYW4tbWVsYWt1a2FuLWhhbC15YW5nLXNhbWEta2VwYWRh&q=Setelah Venezuela, Apakah Amerika akan Melakukan Hal yang Sama kepada Iran?§ion=Internasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Baca juga: Ancaman Trump Dibalas Tegas, Panglima Militer Iran Klaim Siap Lawan AS

Antara Gertakan dan Risiko Perang

Intinya, Iran bukanlah Venezuela yang militernya terbilang cukup rapuh karena krisis ekonomi menahun. Teheran memiliki kapasitas strategis yang luar biasa, dengan geografi pegunungan yang sulit ditaklukkan dan sistem pertahanan udara yang jauh lebih mumpuni dibanding Caracas, meskipun sebagian infrastrukturnya sempat terganggu oleh ketegangan regional baru-baru ini.

Artinya, jika Amerika nekat mendaratkan pasukan khusus di Teheran, taruhannya bukan lagi soal tingkat keberhasilan operasi, melainkan stabilitas global secara keseluruhan.

Namun, kita juga tidak boleh abai bahwa ada celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi Amerika untuk melancarkan aksi militer strategis, meski polanya mungkin tidak akan pernah identik dengan apa yang kita lihat di Caracas.

Label "negara sponsor terorisme" yang terus disematkan Washington kepada Teheran sejak lama berpotensi menjadi salah satu pintu masuk utama. Bagi Amerika, dukungan Iran pada kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh Amerika dan beberapa organisasi internasional, seperti Hizbullah, Hamas, hingga milisi Houthi, bukan sekadar masalah lokal atau regional, tapi ancaman langsung pada keamanan maritim dan stabilitas energi dunia.

Jika salah satu proksi ini melakukan aksi yang dianggap oleh Amerika sebagai tindakan yang telah melampaui batas, Washington mendadak akan memiliki legitimasi khusus untuk melakukan serangan balasan sebagai bagian dari upaya untuk menghukum. Ditambah lagi, variabel Israel yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Dalam kacamata Tel Aviv, Iran adalah ancaman eksistensial. Dan diakui atau tidak, pengaruh lobi Israel di Washington sangatlah besar. Sehingga seringkali, apa yang dianggap Amerika sebagai tindakan berisiko besar, boleh jadi dipandang oleh Israel sebagai keharusan yang mendesak. Jika Israel berhasil memprovokasi atau meyakinkan Washington bahwa eskalasi sudah di depan mata, misalnya, Amerika bisa saja "terseret" ke dalam konflik terbuka karena keterikatan keamanan di antara keduanya.

Risiko geoekonomi adalah masalah utama lainya yang juga berpotensi melahirkan skenario perang terbuka di Timur Tengah. Iran adalah pemegang kunci Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Sekali saja Teheran merasa eksistensi rezimnya terancam, besar kemungkinan Iran tidak akan ragu untuk menebar ranjau atau menenggelamkan tanker-tanker di jalur sempit tersebut.

Hasilnya? Harga minyak dunia diprediksi bisa meroket sampai lebih dari 150 dolar AS per barel, lalu memicu inflasi global yang akan mengganggu perekonomian negara-negara berkembang di seluruh dunia. Inilah yang membuat Amerika cenderung menggunakan kekuatan militer di Venezuela sebagai “alat gertakan psikologis” untuk memaksa Iran bertekuk lutut di meja perundingan, tanpa harus menanggung risiko perang terbuka yang akan mengganggu stabilitas ekonomi global.

Baca juga: Kejatuhan Maduro di Venezuela, Alarm Keras Bagi Iran

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } } Bayang-bayang Suleimani dan Paranoia di Teheran

Jika kita menoleh kembali ke belakang, Amerika sebenarnya sudah pernah melakukan "operasi khusus" terhadap Iran dalam skala kecil dan menengah. Kita tentu masih ingat tentang pembunuhan Jenderal Qasem Suleimani di Bagdad, sebuah bukti nyata bahwa Donald Trump berani menargetkan figur puncak militer Iran di wilayah netral. Ditambah lagi dengan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran pada pertengahan 2025 lalu yang melumpuhkan sebagian besar infrastruktur atom Iran tanpa perlu melakukan invasi darat secara masif.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waka Komisi IX DPR Kritik SPPG Dekat Peternakan Babi di Sragen: BGN Kecolongan
• 4 jam laludetik.com
thumb
Otoritas China berikan komentar soal penyelidikan akuisisi Manus oleh Meta
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Alasan Polisi Tak Tahan Richard Lee Meski Terancam 12 Tahun Penjara
• 18 jam laluidntimes.com
thumb
Real Madrid Melaju ke Final Supercopa
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Nasib Influencer China Jadi Gelandangan di Kamboja gegara Pacar
• 5 jam laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.