FAJAR, MAKASSAR — Laga besar akan tersaji di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. PSM Makassar dijadwalkan menjamu Bali United pada Jumat, 9 Januari 2025, dalam pertandingan penutup putaran pertama Super League 2025/2026.
Pertandingan ini bukan sekadar duel dua kekuatan lama Liga 1. Bagi PSM Makassar, laga ini menjadi ujian krusial sekaligus penentu arah perjalanan tim di paruh musim. Kemenangan menjadi harga mati jika Pasukan Ramang tak ingin menutup putaran pertama di papan tengah—atau lebih buruk lagi, tergelincir ke papan bawah klasemen.
Tekanan semakin berat karena PSM sedang berada dalam tren negatif. Tiga kekalahan beruntun dari Malut United, Persib Bandung, dan Borneo FC membuat posisi tim rawan. Jika kembali gagal meraih poin penuh, PSM berpotensi menelan empat kekalahan beruntun, situasi yang jarang terjadi dalam beberapa musim terakhir.
Suporter PSM Makassar, Rizal, menilai laga kontra Bali United bukan sekadar soal tiga poin, melainkan pembuktian nyata atas janji evaluasi yang berulang kali disampaikan pelatih Tomas Trucha.
“Ini bukan sekadar menang atau kalah. Ini pembuktian bagi pelatih. Kalau masih kalah lagi, berarti evaluasi yang dijanjikan itu tidak berjalan maksimal,” ujar Rizal, Kamis (8/1).
Ia menegaskan, kemenangan atas Bali United akan memberi sedikit ruang napas bagi suporter sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap tim yang belakangan dinilai kehilangan konsistensi.
Namun, Bali United jelas bukan lawan yang mudah. Secara historis, PSM tertinggal dalam rekor pertemuan. Dari 22 laga, PSM hanya meraih tujuh kemenangan, enam kali imbang, dan sembilan kali kalah.
Dalam lima pertemuan terakhir, PSM bahkan belum sekalipun menang—tiga kali kalah dan dua laga berakhir imbang.
“Justru karena Bali tim kuat, kalau PSM bisa menang, itu jadi sinyal kuat bahwa tim benar-benar sudah berbenah,” lanjut Rizal.
Pelatih PSM, Tomas Trucha, sebelumnya telah menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh usai hasil minor yang kembali diraih timnya. Fokus utama evaluasi adalah antisipasi bola mati lawan dan penyelesaian akhir, dua aspek yang berulang kali menjadi titik lemah PSM musim ini.
“Kami punya peluang, tetapi penyelesaian akhirnya belum maksimal. Kami juga sering kebobolan dari situasi bola mati. Itu yang harus kami perbaiki,” kata Trucha usai kekalahan dari Borneo FC.
Secara statistik, Bali United masih berada satu tingkat di atas PSM. Serdadu Tridatu menempati peringkat ke-8 klasemen sementara dengan 24 poin, sedangkan PSM berada di posisi ke-10 dengan 19 poin.
Laga di Parepare pun menjadi penentu:
apakah PSM mampu bangkit, memangkas jarak poin, dan menutup putaran pertama dengan optimisme—atau justru kembali terpeleset di kandang sendiri.
Masalah PSM bukan hanya pada hasil, tetapi juga skema permainan. Pola yang diterapkan Tomas Trucha perlahan mulai terbaca lawan.
Sejak awal kedatangannya, Trucha menegaskan tak menyukai pendekatan bertahan atau sekadar mengandalkan serangan balik. Ia lebih memilih permainan menyerang dengan penguasaan bola.
Pendekatan ini sempat menjanjikan di tiga laga awal: kalah tipis 0-1 dari Dewa United, membantai PSBS lima gol tanpa balas, dan menang dramatis 3-4 atas Persis Solo.
Namun setelah itu, semuanya buyar. Total football ala Trucha perlahan kehilangan efektivitas. Dalam empat pertandingan berikutnya, PSM tak pernah menang dan kehilangan 11 poin.
Penurunan itu bermula saat PSM bertandang ke markas Persebaya Surabaya. Hasil imbang 1-1 di laga tersebut justru menjadi poin terakhir PSM hingga kini.
Setelahnya, PSM tumbang 0-1 di kandang dari Malut United, kalah 0-1 di markas Persib Bandung, dan terbaru harus menelan epic comeback di markas Borneo FC.
Trucha sendiri mengakui timnya bermain tidak konsisten. Ia bahkan mengakui sempat meninggalkan prinsip awal dengan memilih bertahan dan mengandalkan counter attack.
“Setelah unggul, kami mencoba mempertahankannya dengan counter attack. Tapi dalam 25 menit terakhir kami bermain tidak bagus,” ujarnya.
Janji evaluasi kembali disampaikan, seperti pada laga-laga sebelumnya.
“Kami akan berbenah dan mengevaluasi apa yang salah agar tidak terulang lagi,” imbuhnya.
Ia juga mengakui, tiga kekalahan beruntun merupakan sinyal bahaya.
“Ini tidak bagus untuk pemain, tidak bagus untuk owner, tidak bagus untuk suporter, dan juga tidak bagus untuk pelatih,” tegasnya.
Pengamat sepak bola Assegaf Razak menilai evaluasi memang wajib dilakukan, tetapi harus berdampak nyata.
“Menang pun perlu evaluasi, apalagi kalah. Tapi evaluasi harus jelas. Jangan kesalahan yang sama terus diulang,” ujarnya.
Mantan pelatih PSM Makassar itu juga menyoroti keputusan pergantian pemain dan keterlambatan perubahan taktik, seperti pada laga melawan Borneo FC.
“Pengambilan keputusan di tengah pertandingan itu krusial. Tidak boleh ragu, apalagi di laga penting dan saat tertinggal,” katanya.
Meski demikian, Assegaf menilai peluang PSM untuk bangkit masih terbuka, asalkan evaluasi dilakukan secara jujur dan tepat menjelang putaran kedua.
Namun satu hal jelas: kekalahan dari Persib, Malut, dan Borneo harus dibayar lunas.
Laga melawan Bali United bukan sekadar pertandingan penutup putaran pertama—ini adalah ujian kepercayaan dan titik balik bagi Tomas Trucha dan skuad Juku Eja.




