Jakarta: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan gagasan untuk menganeksasi Greenland—wilayah semiotonom di bawah Kerajaan Denmark—yang langsung memicu respons keras dari Kopenhagen dan Nuuk.
Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat "memerlukan Greenland" demi kepentingan keamanan nasional. Ia berulang kali mengaitkan rencana pengambilalihan tersebut dengan nilai strategis pulau raksasa di kawasan Arktik, termasuk posisinya dalam sistem pertahanan dan potensi kekayaan mineralnya.
Pernyataan ini muncul tak lama setelah operasi militer besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat di Venezuela. Operasi tersebut berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, yang kemudian dipindahkan ke New York pada 3 Januari 2026.
Situasi tersebut kembali menyalakan kekhawatiran bahwa Washington dapat mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk menganeksasi Greenland—sebuah opsi yang sebelumnya juga tidak sepenuhnya dikesampingkan oleh Trump terkait pulau tersebut.
Pernyataan ini menuai banyak kecaman, termasuk dari sekutu dekat Amerika sendiri. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyatakan bahwa apabila AS menyerang Greenland, hal itu akan mengakhiri aliansi transatlantik, termasuk keanggotaan dalam NATO.
"Semuanya, termasuk NATO, kita, dan juga keamanan yang telah terjamin sejak berakhirnya Perang Dunia II," ujar Frederiksen.
Ambisi Trump terhadap Greenland kembali memicu polemik mengenai apakah Greenland lebih baik bergabung dengan Amerika Serikat atau tetap bersama Denmark.
Namun, ada satu suara penting yang kerap terabaikan dalam diskusi ini: suara warga Greenland sendiri. Apakah mereka ingin bergabung dengan Amerika Serikat atau tidak? Berikut ulasan mengenai sikap dan pandangan masyarakat Greenland terkait isu tersebut.
Mayoritas Warga Greenland Menolak Bergabung dengan Amerika Serikat Jajak pendapat yang dilakukan oleh Verian untuk media Denmark Berlingske dan media Greenland Sermitsiaq, yang dipublikasikan pada 29 Januari 2025, menunjukkan bahwa mayoritas besar warga Greenland secara tegas menolak ide menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Survei ini dilakukan secara daring terhadap 497 warga Greenland berusia 18 tahun ke atas yang dipilih secara representatif, dengan wawancara berlangsung dalam bahasa Denmark dan Greenland (Kalaallisut) pada 22–26 Januari 2025.
Dalam survei tersebut, warga ditanya: “Apakah Anda ingin Greenland keluar dari Denmark dan menjadi bagian dari Amerika Serikat?” Hasilnya menunjukkan bahwa 85% responden menyatakan tidak ingin Greenland keluar dari Kerajaan Denmark untuk bergabung dengan Amerika Serikat. Hanya 6% yang menjawab ya, dan 9% menyatakan tidak tahu.
Penolakan ini mencerminkan bahwa identitas nasional dan hubungan historis dengan Denmark tetap menjadi landasan utama bagi mayoritas warga Greenland. Dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, Greenland telah menikmati otonomi luas sejak tahun 1979, meskipun urusan luar negeri dan pertahanan masih dikendalikan oleh Denmark.
Baca Juga:
PM Denmark: Bila AS Caplok Greenland, Artinya NATO Bubar Dukungan terhadap Kemerdekaan Lebih Tinggi Di sisi lain, dukungan terhadap opsi kemerdekaan penuh dari Denmark menunjukkan angka yang lebih tinggi.
Dalam survei yang sama, ketika ditanya apakah mereka akan memilih "ya" jika referendum kemerdekaan diadakan hari ini, sebanyak 56% responden menjawab ya, sementara 28% menjawab tidak, dan 17% tidak memberikan jawaban pasti.
Namun, dukungan terhadap kemerdekaan tersebut sangat dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi. Sebanyak 45% responden menyatakan tidak akan mendukung kemerdekaan apabila standar hidup mereka menurun, baik secara signifikan maupun sedikit.
Bahkan, mayoritas kecil responden menginginkan agar dukungan finansial dari Denmark tetap dilanjutkan, meskipun Greenland nantinya merdeka sepenuhnya.




