Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat dua hari berturut-turut pada Kamis (8/1), ditopang kenaikan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat dua hari berturut-turut pada Kamis (8/1/2026), ditopang kenaikan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago, pelemahan ringgit, serta rencana Indonesia untuk mengambil alih lebih banyak lahan perkebunan.
Menurut data pasar, pukul 14.26 WIB, kontrak berjangka (futures) CPO naik tipis 0,05 persen ke level 4.037 ringgit Malaysia, usai sempat melesat 1,07 persen tadi pagi.
Melansir Reuters, Presiden Indonesia Prabowo Subianto pada Rabu menyatakan pemerintahannya membuka peluang menyita 4 juta hingga 5 juta hektare perkebunan kelapa sawit tahun ini, di luar 4,1 juta hektare yang telah diambil alih sepanjang tahun lalu.
Analis menilai langkah tersebut, dikombinasikan dengan ambisi besar Indonesia memperluas program biodiesel, berpotensi menambah tekanan kenaikan harga minyak sawit global.
Dukungan juga datang dari pelemahan dolar AS serta penguatan harga minyak nabati pesaing di pasar Dalian dan Chicago, seiring spekulasi peningkatan permintaan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada Februari.
Dari sisi pasokan, perhatian pasar tertuju pada Indonesia sebagai produsen terbesar dunia, menyusul rencana pemerintah menyita 4-5 juta hektare perkebunan setelah tahun lalu mengambil alih 4,1 juta hektare.
Analis memperingatkan, kebijakan ini, bersamaan dengan ekspansi biodiesel yang agresif, dapat memperketat pasokan global dan mendorong harga naik.
Namun, penguatan harga tertahan oleh melemahnya permintaan dari India, pembeli minyak sawit terbesar dunia.
Impor India pada Desember turun ke level terendah dalam delapan bulan, dipengaruhi konsumsi musim dingin yang lebih lemah serta meningkatnya penggunaan minyak nabati substitusi.
Estimasi Reuters juga menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia pada Desember menyentuh level tertinggi dalam hampir tujuh tahun.
Sikap hati-hati pasar turut bertahan menjelang rilis data CPI dan PPI China pada Jumat, di tengah kekhawatiran risiko deflasi. (Aldo Fernando)



