Ketua Satgas rehabilitasi pascabencana Sumatera, Tito Karnavian menyebut, masih banyak wilayah di Provinsi Aceh yang perlu mendapat perhatian usai diterjang banjir dan longsor pada akhir November 2025.
“Khusus untuk di Aceh, ada 7 yang masih perlu kita fokus tanpa menafikan 11 daerah lain. Di antaranya adalah yang utama Aceh Tamiang,” ujar Tito dalam konferensi pers percepatan rehabilitasi bencana Sumatera di Kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis (8/1).
Selain Aceh Tamiang, beberapa wilayah yang masih cukup terdampak adalah Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Meski begitu, Tito yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri itu juga menyebutkan roda pemerintahan sudah mulai berjalan.
“11 Dari indikator yang saya sampaikan tadi, indikator pulih, pemerintahan, kabupaten berjalan atau tidak, kemudian akses darat untuk mobilitas orang atau barang, kemudian juga layanan publik serta aktivitas ekonomi, 11-nya relatif sudah berjalan dengan mendekati baik,” paparnya.
Selain Aceh, di Provinsi Sumatera Utara, dari 18 daerah, sebanyak lima daerah juga masih perlu mendapat perhatian serius.
“Yang perlu perhatian adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Mandailing Natal,” urai Tito.
Tito menyebutkan, Provinsi Sumatera Barat lebih cepat dalam proses rehabilitasi. Meski begitu, masih ada beberapa daerah yang perlu perhatian. Tiga daerah itu adalah Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.
“Sumatera Barat mungkin yang paling cepat untuk recover, itu ada 16 yang dalam catatan kita saat itu terdampak kabupaten/kota, 13 di antaranya sudah mendekati normal,” tutup dia.



