Melihat Arca Panji Peninggalan Abad ke-15 yang Tersimpan di ITB

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Arca Panji dari Candi Selokelir terpajang rapi di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, Bandung. Arca itu merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1434 M atau abad ke-15.

Ditemukan di lereng Gunung Penanggungan, Jawa Timur, pada awal tahun 1930 dalam kondisi fragmentaris (pecah).

Arca Panji bisa terbilang langka dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Arca itu menggambarkan sosok tokoh Raden Panji, tokoh utama dari kisah Panji yang populer di Jawa. Ciri khas sebagai Panji didasarkan pada ciri topi khas “tekes” dan atribut figur, yang sering muncul dalam relief cerita Panji di berbagai candi.

Dikutip dari data Kemendikdasmen, Situs Gunung Penanggungan menempati posisi yang terbilang istimewa dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Di gunung yang di masa lalu dianggap suci itu, banyak dijumpai bangunan purbakala dalam berbagai bentuk dan jenisnya.

Situs itu disebut menjadi gunung terkaya yang pernah dimiliki dunia arkeologi Indonesia.

Dari dokumentasi yang pernah dibuat orang-orang Belanda, diketahui, di Gunung Penanggungan dulu banyak ditemukan arca yang menggambarkan figur-figur dewa,dewi, atau tokoh-tokoh tertentu.

Namun kini, tak satu pun arca yang terlihat di gunung itu. Sebagian besar hilang, dicuri atau rusak.

Sebagian kecil lagi berhasil diselamatkan, tersimpan di beberapa museum dan pusat studi seperti yang ada di ITB.

Dr. Kiki Rizky Soetisna dosen dan peneliti Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, mengatakan arca yang ada di ITB bukan hanya Arca Panji, ada arca lainnya yang disimpan dikelola Center for Indonesian Visual Art Studies (CIVAS), sebuah laboratorium yang khusus menangani arsip dan benda-benda sejarah pendirian sekolah seni rupa di ITB.

“Ini merupakan sebuah laboratorium yang mengelola arsip-arsipn yang berkaitan dengan sejarah pendirian kampus seni rupa ITB” kata Dr. Kiki Rizky Soetisna saat ditemui kumparan di ITB, Kamis (8/1).

Koleksi arca ini dulunya tersebar di berbagai sudut lingkungan FSRD sebelum akhirnya dikumpulkan ke satu pusat pengelolaan. CIVAS mencatat setidaknya 25 arca yang sudah terverifikasi inventaris, dengan satu temuan baru yang masih menunggu konfirmasi.

Menurut Kiki, seluruh arca memiliki nomor cagar budaya dan tercatat sebagai aset resmi ITB.

Meski bernilai sejarah, CIVAS menegaskan FSRD saat ini bukan museum sehingga tata kelola dan fasilitas penyimpanan belum sempurna. Arca digunakan sebagai bahan ajar bagi mahasiswa seni rupa dan desain, membuat akses ruangnya sedikit berbeda dibanding koleksi museum formal.

“Arca ini digunakan sebagai bahan ajar bagi mahasiswa seni rupa dan desain,” ujar Kiki.

Kondisi itulah yang membuat pengelolaan dilakukan bertahap. CIVAS berencana menyusun timeline sejarah arca hingga memastikan status cagar budaya secara legal. Kiki menyebut langkah ini penting agar pengelolaan koleksi memiliki dasar administratif yang jelas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dindik Jatim Perkuat Pengawasan Setelah Ditemukan Paparan Ideologi Kekerasan pada Anak
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bulog Pastikan Stok Pangan Aman Menjelang Ramadan di Aceh, Sumut, dan Sumbar
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah Kebut Bangun Sumber Air Bersih di Aceh Tamiang, Begini Progresnya
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Update Data Korban Jiwa Bencana Sumatra: 1.182 Orang Meninggal Dunia
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sinopsis JEJAK DUKA DIANDRA SCTV Episode 5, Hari Ini Jumat 9 Januari 2026: Aksi Nekat Yunita Bikin Diandra Panik
• 3 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.