Ormas Demo di Depan Kantor Komdigi Buntut Mens Rea Pandji Pragiwaksono, Hasyim Muhammad: Jadi Orang Kok Gampang Tersinggung

fajar.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Aksi unjuk rasa yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan organisasi masyarakat (ormas) di depan kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, buntut viralnya stand up comedy Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea menuai beragam reaksi.

Penulis dan budayawan asal Mojokerto, Hasyim Muhammad, mengatakan aksi tersebut sebagai bentuk sikap berlebihan dan menunjukkan rendahnya toleransi terhadap ekspresi seni.

“Ngapain sih gampang tersinggung begini?,” ujar Hasyim di X @hasyimmah (8/1/2026).

Ia secara tegas menyatakan keberpihakannya kepada Pandji.

Dikatakan Hasyim, materi yang disampaikan Pandji dalam Mens Rea merupakan bagian dari ekspresi kesenian yang sah dan dilindungi dalam ruang demokrasi.

“Saya membela Pandji dalam hal ini. Apa yang dilakukan Pandji adalah bagian dari ekspresi kesenian,” tegasnya.

Hasyim mengingatkan, apabila karya seni mudah dipersoalkan dan dianggap menyinggung, maka perkembangan kesenian di Indonesia justru akan terhambat.

“Kalau sedikit-sedikit dianggap menyinggung, kesenian kita nggak akan maju,” tandasnya.

Tidak hanya stand up comedy, Hasyim juga menyinggung dunia perfilman yang menurutnya seharusnya diberi ruang lebih luas untuk menyuarakan kegelisahan dan pandangan masyarakat.

“Film pun harusnya lebih ekspresif dalam menyampaikan pendapat masyarakat,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa ekspresi seni tidak seharusnya dibungkam oleh siapa pun, baik oleh negara maupun kelompok masyarakat tertentu.

“Tak seharusnya dibungkam. Baik oleh pemerintah, ormas keagamaan, ormas kesukuan, atau yang lain,” terang dia.

Tidak berhenti di situ, Hasyim kembali mempertanyakan fenomena mudah tersinggung yang menurutnya semakin mengkhawatirkan di ruang publik.

“Jadi orang kok gampang tersinggungan,” kuncinya.

Menurut informasi yang didapatkan, massa meminta agar tayangan Mens Rea di Netflix dievaluasi karena dianggap memicu polemik.

Para peserta aksi menilai materi yang disampaikan berpotensi menimbulkan polarisasi dan merendahkan kelompok masyarakat tertentu.

Pemerintah diminta bersikap tegas, sementara Pandji Pragiwaksono didorong menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf. (Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hujan Deras Guyur Semarang, Jalan Protokol dan Simpang Lima Tergenang
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PAM Jaya-Metro TV Gelar MoU untuk Tingkatkan Taraf Hidup Warga Jakarta
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Delpedro Minta Menko Yusril Rutin Pantau Pelayanan Kesehatan di Rutan
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Konsumsi Listrik SPKLU Naik 479 Persen Selama Siaga Nataru 2025/2026
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Menang adu penalti kontra Marseille, PSG juarai Piala Super Prancis
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.