Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan mencatat penonton film Tanah Air mencapai 80,270 juta penonton, yang menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai pertanda bahwa film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Tahun lalu juga sekitar itu tapi di bawahnya sedikit, ya. Jadi, paling tidak penonton Indonesia stabil ini menunjukkan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata dia dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026” di Jakarta, Kamis.
Sejumlah film Indonesia juga mencatat prestasi di berbagai festival internasional, sementara film animasi nasional mencetak rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Film "Pangku" menorehkan prestasi pada ajang Busan International Film Festival, sementara animasi "Jumbo" menjadi film terlaris di dalam negeri tahun lalu.
"Film Indonesia sekarang ini selalu hadir dalam berbagai festival film internasional," kata dia.
Baca juga: "Agak Laen: Menyala Pantiku!" jadi film Indonesia terlaris
Kementerian Kebudayaan terus mendukung ekosistem perfilman melalui fasilitasi festival, pasar film, hingga penguatan manajemen talenta. Menteri Fadli Zon mengatakan kementeriannya mendukung kegiatan para sineas, pelaku seni tradisi dalam festival film internasional melalui fasilitasi dan dukungan dalam berbagai bentuk.
Dukungan dihadirkan untuk memperkuat jejaring, mempromosikan karya, memperkuat posisi Indonesia di perfilman dunia.
Minat masyarakat menonton film di bioskop yang masih tinggi, menurut sang menteri menjadi hal yang penting bagi ekonomi budaya Indonesia dan dapat mendukung keberlangsungan ekosistem perfilman.
Fadli Zon juga menegaskan komitmen untuk memastikan akses kebudayaan yang inklusif bagi seluruh warga negara, sejalan dengan prinsip no one left behind (tidak ada seorangpun yang tertinggal), Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta memperkuat peran generasi muda sebagai aktor utama masa depan kebudayaan Indonesia.
"Kita membutuhkan fondasi yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan teknologi, tapi, juga kokoh secara kultural untuk masa depan bangsa,” kata dia.
Baca juga: Perfilman Indonesia 2025: Investasi ke orang-orang yang tepat
Baca juga: Sutradara menilai platform streaming buka peluang jangkau pasar global
Baca juga: Kementerian Kebudayaan berupaya melestarikan cerita-cerita Indonesia
Baca juga: Dua IP Animasi Indonesia Tembus Pasar Global Lewat Komitmen Penjajakan dari Taiwan dan Kanada
"Tahun lalu juga sekitar itu tapi di bawahnya sedikit, ya. Jadi, paling tidak penonton Indonesia stabil ini menunjukkan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata dia dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026” di Jakarta, Kamis.
Sejumlah film Indonesia juga mencatat prestasi di berbagai festival internasional, sementara film animasi nasional mencetak rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Film "Pangku" menorehkan prestasi pada ajang Busan International Film Festival, sementara animasi "Jumbo" menjadi film terlaris di dalam negeri tahun lalu.
"Film Indonesia sekarang ini selalu hadir dalam berbagai festival film internasional," kata dia.
Baca juga: "Agak Laen: Menyala Pantiku!" jadi film Indonesia terlaris
Kementerian Kebudayaan terus mendukung ekosistem perfilman melalui fasilitasi festival, pasar film, hingga penguatan manajemen talenta. Menteri Fadli Zon mengatakan kementeriannya mendukung kegiatan para sineas, pelaku seni tradisi dalam festival film internasional melalui fasilitasi dan dukungan dalam berbagai bentuk.
Dukungan dihadirkan untuk memperkuat jejaring, mempromosikan karya, memperkuat posisi Indonesia di perfilman dunia.
Minat masyarakat menonton film di bioskop yang masih tinggi, menurut sang menteri menjadi hal yang penting bagi ekonomi budaya Indonesia dan dapat mendukung keberlangsungan ekosistem perfilman.
Fadli Zon juga menegaskan komitmen untuk memastikan akses kebudayaan yang inklusif bagi seluruh warga negara, sejalan dengan prinsip no one left behind (tidak ada seorangpun yang tertinggal), Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta memperkuat peran generasi muda sebagai aktor utama masa depan kebudayaan Indonesia.
"Kita membutuhkan fondasi yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan teknologi, tapi, juga kokoh secara kultural untuk masa depan bangsa,” kata dia.
Baca juga: Perfilman Indonesia 2025: Investasi ke orang-orang yang tepat
Baca juga: Sutradara menilai platform streaming buka peluang jangkau pasar global
Baca juga: Kementerian Kebudayaan berupaya melestarikan cerita-cerita Indonesia
Baca juga: Dua IP Animasi Indonesia Tembus Pasar Global Lewat Komitmen Penjajakan dari Taiwan dan Kanada




:strip_icc()/kly-media-production/medias/789772/original/008055600_1420427810-cuaca_3.jpg)