Kita Sibuk Mengikuti Politik, Tubuh Diam-diam Kewalahan

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Ketika terlalu banyak berita politik, tubuh diam-diam membayar harganya. Saya tidak anti berita. Saya juga tidak menutup mata terhadap politik, apalagi saya dulu juga wartawan foto untuk tabloid Detik, satu-satunya tabloid politik terkemuka beroplah setengah juta eksemplar setiap terbit, yang kemudian dibreidel oleh pemerintah Orde Baru tanggal 21 Juni 1994.

Namun, dari pengalaman saya mendampingi banyak orang dalam proses self healing, ada satu hal yang semakin jelas: "tubuh manusia jauh lebih sensitif daripada yang kita kira". Dan sayangnya, kita sering kali terlambat menyadarinya.

Banyak peserta training self healing terapi tapping private online ikut training dengan keluhan yang hampir sama. Bukan keluhan berat. Justru keluhan yang sering dianggap sepele: asam lambung naik, perut tidak nyaman, dada terasa penuh, kepala berat, tidur tidak nyenyak. Saat ditanya, hampir selalu jawabannya terdengar masuk akal: telat makan, salah makanan, terlalu pedas, terlalu asam.

Namun pengalaman mengajarkan saya satu hal penting: Tidak semua keluhan fisik bermula dari fisik. Tubuh Bereaksi, Bahkan saat kita merasa “Biasa Saja”

Saya sering mengatakan ini dalam sesi training saya: "tubuh tidak peduli apakah kita menganggap sesuatu penting atau tidak. Selama emosi bergerak, tubuh akan merespons".

Ketika seseorang terlalu sering membaca berita politik—terutama yang penuh konflik, ketegangan, dan ketidakpastian—pikiran mungkin berkata, “Saya hanya ingin tahu.” Tetapi tubuh menangkapnya sebagai tekanan.

Sistem saraf masuk ke mode siaga. Napas memendek. Otot mengencang. Pencernaan melambat. Ini bukan teori. Ini respons biologis.

Dan yang menarik, banyak orang "tidak merasa sedang stres". Mereka hanya merasa “lelah”, “tidak enak badan”, atau “perut sering bermasalah”.

Pencernaan adalah cermin emosi yang paling jujur. Dari sekian banyak organ, pencernaan adalah yang paling cepat “bicara”. Dalam pendekatan self healing, lambung dan usus sering kali menjadi tempat emosi yang tidak sempat disadari dan dilepaskan.

Ilmu kesehatan mengenal konsep "gut–brain axis"—jalur komunikasi dua arah antara otak dan usus. Emosi memengaruhi pencernaan, dan sebaliknya. Itulah sebabnya stres bisa langsung terasa di perut, bahkan sebelum disadari oleh pikiran rasional.

Saya melihat ini berulang kali. Asam lambung bukan hanya soal makan. Maag bukan sekadar soal telat makan. Dalam banyak kasus, ada "ketegangan emosi yang dipendam terlalu lama".

Yang paling saya sayangkan adalah ini:

Asam lambung dianggap murni masalah makanan. Perut tidak nyaman dianggap urusan jadwal makan. Padahal bisa jadi, tubuh sedang kelelahan menyimpan emosi—cemas, marah, frustrasi—yang setiap hari dipicu oleh informasi yang kita konsumsi.

Kesadaran bahwa tubuh dan emosi saling terhubung masih jarang. Kita cepat menyalahkan tubuh, tetapi jarang bertanya: *apa yang sedang saya simpan di pikiran dan perasaan saya belakangan ini?*

Berita politik punya daya tarik emosional yang kuat. Ia menyentuh rasa keadilan, rasa aman, dan masa depan. Kita ikut merasa, tetapi sering kali tidak punya ruang untuk menyalurkan rasa itu.

Tidak dibicarakan. Tidak dilepaskan. Tidak diakui.

Dalam dunia trauma dan stres dikenal ungkapan “the body keeps the score”. Tubuh mencatat apa yang tidak sempat diselesaikan oleh pikiran. Dalam bahasa yang lebih sederhana: "emosi yang tidak disadari akan disimpan oleh tubuh".

Dan pencernaan sering menjadi tempat penyimpanan itu.

Saya tidak menulis ini untuk mengajak orang menutup diri dari realitas. Kita tetap perlu tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Tetapi saya percaya, "tidak semua informasi perlu dikonsumsi tanpa batas".

Dalam self healing, kesadaran adalah kunci. Menyadari kapan informasi berubah menjadi tekanan. Menyadari kapan tubuh mulai lelah. Menyadari kapan kita perlu berhenti sejenak.

Kadang yang dibutuhkan tubuh bukan obat, bukan suplemen, tetapi "ruang untuk kembali merasa aman".

Berita politik mungkin hanya kita baca lewat layar, tetapi dampaknya bisa terasa nyata di tubuh—terutama di perut. Tubuh selalu jujur. Ia memberi sinyal ketika sesuatu terlalu berat untuk terus ditahan.

Bagi saya, self healing bukan tentang menghindari dunia, tetapi tentang "belajar hadir di dalam tubuh sendiri". Mendengarkan sinyal-sinyal halus yang selama ini kita abaikan.

Karena kesehatan bukan hanya tentang apa yang kita makan, melainkan juga tentang "apa yang setiap hari kita izinkan masuk ke pikiran dan emosi kita".

----------------------------------------

Penulis :

Yuyun Wardhana adalah praktisi/trainer self healing Terapi Tapping Indonesia yang sudah 19 tahun menekuni teknik self healing berbasis EFT yang sudah membantu ribuan peserta training mengatasi berbagai keluhan fisik maupun psikis dengan teknik Terapi Tapping berbasis EFT.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Tetapkan Eks Menag Yaqut Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Mayat Pria Tanpa Kepala Ditemukan di Aliran Sungai Darisim, Sukabumi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Heboh Super Flu di Indonesia, Menkes Sebut Sudah Ada Sejak Lama, Hanya Varian Baru
• 42 menit lalurepublika.co.id
thumb
Blak-blakan! Julius Ibrani Pertanyakan Alasan Aktivis Muda NU dan Muhammadiyah Laporkan Pandji
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkot Makassar Mulai Bangun Urban Farming Terintegrasi 2026
• 8 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.