TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, membuang sampah bukan perkara gratis.
Warga dan pedagang mengaku harus merogoh kocek setiap kali membuang sampah.
Namun, tumpukan sampah justru kian menggunung, menyisakan bau menyengat dan kemacetan yang tak kunjung reda.
Budiman (bukan nama sebenarnya) mengatakan, praktik buang sampah berbayar sudah berlangsung lama di lokasi tersebut.
Baca juga: Sampah Menggunung di Trotoar Jalan Otista Ciputat, Bau Tak Sedap Menyengat
Tarifnya bervariasi, tergantung siapa yang membuang.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=tangerang selatan, pengelolaan sampah, sampah menumpuk, Jalan Otista Raya, sampah Ciputat, Buang sampah bayar&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wOS8wNjEwNDEzMS9pcm9uaS1idWFuZy1zYW1wYWgtYmF5YXItcnAtMzAwMHJwLTEwMDAwLWRpLWNpcHV0YXQtdGFwaS10YWsta3VuanVuZw==&q=Ironi Buang Sampah Bayar Rp 3.000–Rp 10.000 di Ciputat tapi Tak Kunjung Bersih§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `“Iya (warga dan pedagang) bayar tapi kurang tau (nominal yang pasti) berapa, soalnya ada yang Rp 5.000, ada yang Rp 10.000,” kata Budiman saat ditemui Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
Warga pertanyakan pengelolaan danaTak hanya warga, para pedagang kios di sekitar lokasi juga dikenakan iuran harian.
Namun, Budiman mengaku tidak pernah mengetahui ke mana uang tersebut dikelola.
“Iya kita juga bayar, setiap hari ditarikin duit Rp 8.000. Tapi abis itu duitnya gak tau kemana, paling ke atasan mereka,” ujarnya.
Menurut dia, setelah uang dibayarkan, tidak ada tanggung jawab lanjutan dari pihak yang memungut. Sampah tetap dibiarkan menumpuk di pinggir jalan.
Pungutan itu kerap disebut sebagai biaya kebersihan. Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan hal sebaliknya. Sampah terus bertambah dan meluber hingga memakan badan jalan.
Baca juga: Tumpukan Sampah di Jalan Otista Ciputat Bersumber dari Pedagang Pasar dan Warga
“Ya bilangnya buat kebersihan tapi liat aja sampah jadi makin numpuk. Itu mah sampah buat isi perut mereka. Mana buktinya, gak ada kebersihannya,” katanya.
Ia menilai, tumpukan sampah yang mencapai setengah jalan seharusnya tidak dibiarkan karena mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan.
“Udah mana sampahnya sampe setengah jalan, aturan mah ini gak boleh,” ujar dia.
Keluhan serupa disampaikan pedagang kelapa parut, Doni Putra (31). Ia mengatakan, sebagian besar sampah berasal dari aktivitas pasar, namun banyak juga warga dari luar kawasan yang membuang sampah di lokasi tersebut.





