Ketika Takut Kehilangan Membuat Hubungan Terasa Melelahkan

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Tidak semua hubungan melelahkan itu disebabkan oleh konflik besar. Ada kalanya, kelelahan dalam hubungan yang secara berulang lah yang justru menjadi penyebab dari rusaknya sebuah hubungan.

Kelelahan dalam hubungan hadir dari rasa kecemasan kecil yang terus muncul, rasa takut kehilangan, takut perubahan, atau bahkan perasaan takut ditinggalkan. Perasaan-perasaan itu muncul secara diam-diam ketika hubungan terlihat baik-baik saja.

Dalam hubungan, kecemasan emosional, seperti takut ditinggalkan, takut perubahan, atau takut kehilangan perhatian dapat membuat seseorang terus mencari kepastian dari pasangannya. Pikirannya bekerja tanpa henti inilah yang perlahan menguras energi emosional dan hubungan terasa melelahkan, meski tidak sedang berada dalam konflik terbuka.

Dari Mana Rasa Takut Kehilangan itu Muncul?

Rasa takut kehilangan jarang sekali muncul secara tiba-tiba. Perasaan ini biasanya tumbuh perlahan, dipicu oleh perubahan kecil dalam hubungan yang terasa samar, tetapi berdampak besar secara emosional. Respons yang mulai melambat, komunikasi yang tidak lagi sehangat sebelumnya, atau jarak yang sulit dijelaskan sering kali menjadi sinyal awal yang memicu kegelisahan.

Pada kondisi seperti ini, pikiran cenderung lebih aktif. Seseorang mulai mengartikan hal-hal kecil secara berlebihan, mencari arti di balik sikap pasangan. dan membangun asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Tanpa disadari, kebutuhan akan kepastian meningkat bukan karena kekurangan rasa percaya, melainkan karena munculnya rasa tidak aman yang belum sempat dipahami.

Pengalaman masa lalu juga sering memperkuat perasaan ini. Hubungan yang pernah berakhir secara tiba-tiba atau meninggalkan luka emosional dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap perubahan dalam hubungan berikutnya. Akibatnya, rasa takut kehilangan mudah muncul meski tanpa pemicu yang jelas.

Pada akhirnya, rasa takut kehilangan tidak hanya berkaitan dengan pasangan, tetapi juga dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Perasaan ini kerap berakar pada kebutuhan akan rasa aman, penerimaan, dan kepercayaan dalam membangun kedekatan emosional.

Saat Takut Kehilangan Bertemu Pola Menjauh

Dalam banyak hubungan, rasa takut kehilangan sering kali semakin kuat ketika bertemu dengan pasangan yang menunjukkan pola menjauh. Perubahan sikap terasa dingin, komunikasi yang tidak lagi konsisten, atau kebutuhan pasangan untuk lebih banyak ruang bisa memicu kecemasan.

Bagi seseorang dengan anxious attachment, jarak bukan sekadar ruang fisik atau waktu sendiri, melainkan juga sinyal ancaman yang membuat pikiran dipenuhi pertanyaan dan kekhawatiran.

Di sisi lain, pola menjauh sering kali tidak selalu berarti hilangnya rasa sayang. Pada beberapa orang—terutama dengan kecenderungan avoidant attachment—menarik diri justru menjadi cara untuk mengatur emosi dan menjaga diri agar tidak merasa terlalu terikat. Sayangnya, perbedaan ini jarang dipahami sejak awal. Ketika satu pihak membutuhkan kepastian, pihak lain justru semakin tertekan dan memilih menjauh lebih jauh.

Pertemuan rasa takut kehilangan dengan pola menjauh ini akhirnya menciptakan lingkaran yang melelahkan. Semakin satu pihak mencari kejelasan dan kedekatan, semakin pihak lain merasa butuh jarak. Jika tidak disadari dan dibicarakan dengan sehat, dinamika ini dapat membuat hubungan terasa tidak aman, meski kedua belah pihak sebenarnya sama-sama tidak berniat saling menyakiti.

Tanda-Tanda Anxious Attachment dalam Hubungan

Anxious attachment sering ditandai dengan kebutuhan tinggi akan kepastian emosional. Perasaan aman banyak bergantung pada respons pasangan, seperti perhatian yang konsisten atau komunikasi yang terasa dekat. Ketika hal-hal ini berkurang, kecemasan mudah muncul, meski tidak ada konflik yang jelas.

Tanda lainnya adalah kecenderungan untuk terlalu memikirkan perubahan kecil. Balasan pesan yang melambat atau sikap pasangan yang berbeda bisa memicu overthinking dan rasa takut ditinggalkan, meskipun belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Selain itu, anxious attachment juga terlihat dari usaha berlebihan untuk mempertahankan hubungan. Mengalah terus-menerus, menekan kebutuhan pribadi, atau takut menyampaikan perasaan sering dilakukan demi menjaga kedekatan, tetapi justru membuat hubungan terasa melelahkan secara emosional.

Belajar Tenang di Tengah Rasa Takut Kehilangan

Anxious attachment bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan. Rasa takut kehilangan adalah perasaan yang wajar, selama kita mau menyadarinya tanpa terus menyalahkan diri sendiri.

Belajar mengelolanya tidak berarti menghilangkan kecemasan sepenuhnya, tetapi memahami dari mana perasaan itu muncul. Dengan mengenali pola dan luka yang belum selesai, seseorang dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat, termasuk hubungan dengan diri sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Anggaran Satgas Pascabencana Sumatra Rp60 Triliun Dipastikan di Luar Dana BNPB
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Doa Ibu Jelang Sidang Vonis Laras Faizati: Semoga Anak Saya Bebas dan Hidupnya Kembali!
• 9 jam lalusuara.com
thumb
MIND ID dan Pertamina Sinergi Proyek Hilirisasi Batu Bara (DME)
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Menkes Targetkan Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabencana Sumatra Rampung Akhir Maret
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Fake Rich di Era Media Sosial
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.