- Ibu Laras Faizati, Fauziah, berharap hakim membebaskan putrinya secara tuntas pada sidang vonis dugaan penghasutan di PN Jakarta Selatan.
- Perkara hukum ini menyebabkan trauma mendalam pada keluarga tunggal tersebut serta hilangnya pekerjaan Laras sebagai penopang ekonomi.
- Laras juga mengharapkan kebebasan sebagai hadiah ulang tahun menjelang 19 Januari, sekaligus untuk sesama perempuan di rutan.
Suara.com - Menjelang sidang vonis perkara dugaan penghasutan demonstrasi Agustus 2025, harapan besar tak hanya datang dari Laras Faizati Khairunnisa, tetapi juga dari sang ibu, Fauziah (57). Sebagai orang tua tunggal, Fauziah berharap majelis hakim menjatuhkan putusan yang benar-benar membebaskan Laras secara utuh dan menyelamatkan masa depannya.
“Harapan saya sebagai orang tua tentunya Laras bebas. Bebasnya yang ya Insya Allah bebas yang menyelamatkan ya, tuntas bersih nggak ada apa-apa lagi setelah itu, sehingga dia bisa menjalankan hidupnya kembali,” ujar Fauziah saat ditemui usai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).
Fauziah mengaku perkara hukum yang menjerat putrinya telah meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga. Ia menuturkan, sejak Laras ditahan, banyak hal yang hilang dari kehidupan anaknya—mulai dari waktu, kebebasan beraktivitas, hingga pekerjaan yang selama ini menjadi penopang keluarga.
“Dia kan kehilangan pekerjaannya juga yang mana dia dengan pekerjaannya itu kan untuk membantu keluarga, karena udah nggak punya ayah, saya juga udah nggak bekerja,” katanya.
Ia menegaskan, keluarganya bukan siapa-siapa. Laras, menurut Fauziah, hanyalah seorang gadis biasa yang mengekspresikan perasaan kecewa dan marah sebagai warga negara, bukan aktivis apalagi figur publik.
“Peristiwa ini sangat traumatis sekali buat kami ya. Kami kan hanya rakyat biasa, rakyat kecil. Laras pun hanya seorang gadis biasa bukan aktivis, bukan influencer atau apa pun itu. Itu hanya ekspresi murni dia karena kecewa,” tutur Fauziah.
Rindu Anak yang Menghidupkan RumahDi luar urusan hukum, Fauziah tak kuasa menyembunyikan kerinduan mendalam terhadap sosok Laras di rumah. Ia menggambarkan putrinya sebagai pribadi ceria yang selalu menghidupkan suasana keluarga.
“Oh sangat kangen! Karena dia tuh orang yang menghidupkan suasana di rumah, memang paling, paling apa ya, lucu gitu lho,” katanya sambil tersenyum haru.
Menurut Fauziah, karakter Laras sangat mirip dengan almarhum ayahnya—penuh humor dan kehangatan. Di tengah keluarga besar, Laras juga menjadi figur sentral bagi sepupu-sepupunya.
Baca Juga: Menanti Vonis Empat Hari Jelang Ultah ke-27, Laras Faizati: Hadiah Terbaik adalah Kebebasan
“Dia seperti ayahnya karakternya, lucu, suka menghidupkan suasana. Karena dia kan sebenarnya punya sepupu yang lebih tua, tapi kan yang satu pramugari, yang satu agak jauh tinggalnya. Makanya sekarang ini dia yang paling tua, makanya dia jadi kayak leader di antara sepupu-sepupunya. Deket banget hubungannya,” ujarnya.
Menanti Kado KebebasanHarapan Fauziah sejalan dengan harapan Laras sendiri. Sebelumnya, Laras menyatakan berharap kebebasan menjadi “hadiah terbaik” menjelang ulang tahunnya yang ke-27 pada 19 Januari, hanya empat hari setelah sidang vonis yang dijadwalkan pada 15 Januari.
Tak hanya untuk dirinya, Laras juga berharap kebebasan bagi sesama perempuan di Rutan Pondok Bambu yang menghadapi perkara serupa.
Kini, bagi Fauziah, satu hal yang paling ia dambakan adalah kepulangan sang anak ke rumah—dalam keadaan bebas, pulih, dan bisa melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang kriminalisasi.
“Kami cuma ingin semuanya selesai. Laras pulang, hidupnya kembali,” pungkas Fauziah.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5334599/original/039255300_1756721963-20250901-Yakult-HEL_2.jpg)

