EtIndonesia. Situasi di Iran kian memburuk dan memasuki fase yang dinilai paling berbahaya sejak gelombang protes nasional meletus. Pada hari ke-11 aksi demonstrasi, pemerintah Iran dilaporkan kehilangan kendali atas setidaknya tiga kota, sementara pembelotan aparat, keterlibatan kelompok bersenjata, serta sinyal perpecahan elite kekuasaan semakin nyata.
Dua Kota Jatuh pada 6 Januari, Kota Ketiga Menyusul
Pada 6 Januari 2026, Pemerintah Iran secara berturut-turut kehilangan kendali atas Abdanan dan Malekshahi, dua kota di wilayah barat Iran. Sehari berselang, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kota ketiga—diduga Karaj—telah jatuh ke tangan demonstran.
Karaj memiliki arti strategis yang sangat besar. Kota ini merupakan ibu kota administratif Provinsi Alborz, kota satelit terbesar Teheran, pusat industri utama, serta simpul transportasi yang menghubungkan ibu kota dengan wilayah Laut Kaspia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa, hilangnya Karaj akan menjadi pukulan telak bagi stabilitas nasional Iran.
Pembelotan Aparat dan Eskalasi Bersenjata
Seiring meluasnya protes, sejumlah aparat kepolisian dan pasukan keamanan dilaporkan membelot ke pihak rakyat. Kelompok bersenjata yang sebelumnya bersikap netral kini mulai mengangkat senjata dan terlibat baku tembak langsung dengan pasukan pemerintah.
Pada saat yang sama, Tiongkok dan Rusia dilaporkan melakukan evakuasi darurat staf kedutaan mereka, sebuah langkah yang memperkuat dugaan bahwa situasi Iran telah melampaui level krisis domestik biasa.
Grand Bazaar Teheran Jadi Titik Didih Konflik
Hingga 7 Januari, Grand Bazaar Teheran masih menjadi pusat bentrokan. Video yang beredar luas memperlihatkan ribuan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah, bahkan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap monarki dan Raja Iran.
Di kawasan Sar, para pemuda pendukung Dinasti Pahlavi menduduki ruang publik dan meneriakkan slogan “Matilah diktator”. Aparat keamanan merespons dengan gas air mata, namun gagal sepenuhnya membubarkan massa.
Demonstrasi besar juga pecah di:
- Mashhad, kota besar di timur laut Iran
- Naziabad, Teheran selatan, dengan ribuan warga memadati jalan
- Aligudarz, Provinsi Lorestan, di mana puluhan ribu pendukung Pahlavi meneriakkan slogan “Ini adalah pertempuran terakhir” dan “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali”
Militer Iran Bereaksi, Tapi Penindasan Terus Berlangsung
Pada 7 Januari, Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami menyatakan bahwa demonstrasi telah berubah menjadi “kerusuhan yang direkayasa musuh”. Dia menegaskan kesiapan tempur militer Iran saat ini lebih tinggi dibanding sebelum konflik Iran–Israel pada Juni 2025.
Namun di lapangan, fakta berkata lain. Di Kabupaten Larestan, Provinsi Fars, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan melepaskan tembakan massal ke arah demonstran sipil tak bersenjata.
Selain itu, IRGC mengaktifkan latihan pertahanan udara dan radar di Teheran, Shiraz, dan kota-kota besar lain—mengisyaratkan persiapan menghadapi pemberontakan internal sekaligus potensi serangan eksternal.
Serangan Balasan: Markas IRGC Diserang, Kepala Intelijen Dipenggal
Eskalasi berlanjut pada 7 Januari, ketika sebuah organisasi bersenjata Islam menyerang markas utama IRGC di Borujerd, Iran barat. Ini menandai pertama kalinya Garda Revolusi—pilar utama rezim—menjadi target langsung serangan bersenjata terorganisir.
Pada hari yang sama, Kepala Kepolisian Iranshahr, Hajighat, yang juga berperan sebagai pimpinan intelijen daerah, dilaporkan dipenggal oleh kelompok anti-rezim.
Sementara itu, Tentara Nasional Kurdistan mengeluarkan pernyataan bahwa pasukan internal memiliki hak bela diri yang sah, sebuah sinyal keras kemungkinan keterlibatan militer regional.
Sebuah video viral memperlihatkan perwira milisi Basij menolak menindas rakyat dan menyebut tanggal 8–9 Januari sebagai momen penentuan. Pesan ini menyebar luas di tengah masyarakat Iran.
Ulama Syiah Serukan Perlawanan Terbuka
Dalam perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seorang ulama Syiah menyampaikan pidato terbuka dalam bahasa Persia, menyerukan rakyat menggulingkan Ali Khamenei, memulihkan monarki, dan menyebut pemimpin tertinggi Iran sebagai akar seluruh penderitaan nasional.
Ancaman Pemutusan Internet, Starlink Disiapkan
Pada 7 Januari, sejumlah sumber di platform X mengungkapkan bahwa internet Iran akan diputus malam hari. Pemerintah dilaporkan telah memberi tahu penyedia layanan—indikasi persiapan tindakan represif besar-besaran.
Di saat yang sama, video menunjukkan satelit Starlink milik Elon Musk melintas di atas Iran.
Reza Pahlavi, dalam pernyataan tertanggal 7 Januari, menegaskan bahwa kehadiran rakyat hari ini adalah bentuk kesiapan menuju 8 Januari. Dia menegaskan, meski internet diputus, komunikasi akan tetap berjalan melalui ratusan ribu perangkat Starlink dan jaringan alternatif lainnya.
Sinyal Perang Besar Mulai Terlihat
Dalam 24 jam terakhir, Rusia mengirim tiga pesawat evakuasi untuk staf kedutaannya di Israel beserta keluarga. Australia juga mulai mengevakuasi warganya.
Situasi ini memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan perang besar di Timur Tengah. Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Teheran bahwa penindasan brutal terhadap rakyat dapat memicu intervensi AS.
Presiden Iran Melarang Penindasan, Isyarat Perpecahan Elite
Namun pada 7 Januari, media resmi Iran menayangkan rapat kabinet di mana Masoud Pezeshkian memerintahkan aparat keamanan tidak menindas demonstran, kecuali jika keamanan nasional benar-benar terancam. Dia menekankan pembedaan antara demonstran damai dan perusuh.
Presiden juga dijadwalkan menyampaikan pidato nasional dalam beberapa hari ke depan. Di saat bersamaan, muncul laporan bahwa pemerintah menjanjikan subsidi 7 dolar AS per bulan per warga—langkah yang banyak dinilai sebagai tanda kepanikan dan perpecahan elite, mirip skenario Venezuela pasca-penangkapan Maduro.
Tekanan Global: Mossad, Rusia, dan Kapal Pesiar Ditahan
Dalam pesan terbuka yang mengejutkan, Mossad menyerukan militer Iran agar tidak mengandalkan rudal untuk menghadapi rakyat, bahkan menyindir agar peluncur rudal “dikembalikan ke gudang” dan memesan tiket satu arah ke Rusia.
Pada 7 Januari, militer AS menahan kapal pesiar bayangan berbendera Rusia di perairan antara Islandia dan Inggris. Kapal kedua, Bella One, ditahan di Karibia setelah pengejaran dua minggu. Rusia mengirim kapal perang dan kapal selam, namun tidak berani bertindak—sebuah penghinaan besar bagi Vladimir Putin.
Kesimpulan
Memasuki hari ke-11, krisis Iran telah berkembang dari demonstrasi ekonomi menjadi pemberontakan nasional multidimensi—melibatkan pembelotan militer, perang informasi, ancaman perang regional, dan tekanan global. Dunia kini menanti: apakah malam ini akan menjadi titik balik sejarah Iran?




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468520/original/030194300_1767955323-Screenshot_20260109_164537_Gallery.jpg)
