Jakarta: Pemerintah menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan, khususnya komoditas beras. Presiden Prabowo Subianto menyatakan capaian yang sebelumnya ditargetkan selama empat tahun dari 2025 hingga 2029, kini bisa diraih hanya dalam kurun waktu satu tahun saja.
Indikator swasembada pangan
Indikator bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras di antaranya sudah tidak melakukan importasi beras, produksi melebihi konsumsi beras dalam negeri, dan ketersediaan stok di gudang Bulog.
Baca Juga :
Titiek Soeharto: Indonesia Berhasil Swasembada Jagung dalam SetahunPada Januari hingga Desember 2024 Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 30,62 juta ton. Sementara pada Januari-Desember 2025 Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 34,71 juta ton, atau naik sebanyak 13,36 persen.
Sementara perbandingan produksi dan konsumsi beras, yaitu pada 2025 berhasil memproduksi beras sebanyak 34,71 juta ton, sementara konsumsi beras dalam negeri sebanyak 31,19 juta ton, atau surplus sebanyak 3,52 juta ton.
Importasi beras
Pada 2025, Indonesia sudah tidak melakukan impor beras konsumsi lagi. FAO menyatakan bahwa swasembada pangan tercapai jika produksi suatu komoditas mencapai 90% bisa memenuhi kebutuhan nasional. Jika impor di bawah 10% masih bisa disebut sebagai swasembada.
Sementara rata-rata impor beras Indonesia pada 2018-2023 sebanyak 3,85%. Namun pada 2024 impor beras dalam negeri melonjak hingga 13%, yang disebabkan salah satunya karena fenomena alam el nino yang berujung gagal panen.
Baca Juga :
Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan, Indonesia Ulang Sejarah KejayaanSeperti dikatakan Presiden Prabowo saat di Karawang, Jawa Barat bahwa kemandirian pangan jangan berhenti pada swasembada beras, tetapi juga kebutuhan pangan lainnya, seperti garam, gula, singkong, bawang putih, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu pada Desember 2025 lalu dalam pembahasan neraca komoditas untuk 2026 pemerintah memutuskan menutup keran impor beras, jagung dan gula konsumsi.
Sumber: Bapanas



