Viktor Laiskodat, anggota DPR RI, ramai dibicarakan usai melontarkan pernyataan kontroversial. Politikus Partai NasDem itu mengatakan es di kutub yang mencair akan membuat laut semakin lebar. Karena itu, oksigen di Bumi akan bertambah banyak.
Pernyataan ini mencuat di tengah sensitivitas publik terhadap deforestasi yang meningkat usai bencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatra.
KontroversiViktor, dalam sebuah video yang tersebar di internet, mulanya menjelaskan bahwa posisi hutan sebagai paru-paru dunia berada di peringkat ketiga. Yang paling utama, kata dia, berada di lautan. “Satu plankton, dua alga. Itu coba cek saja. Habis itu baru hutan,” ujarnya.
Dia kemudian menyinggung memanasnya suhu bumi yang membuat es di kutub mencair. “Makin tinggi suhunya, es di kutub cair, lautnya makin lebar. Lautnya makin luas, makin banyak oksigennya. Bukankah begitu?”
“Orang bilang gara-gara tebang pohon maka terjadilah banjir. Itu pemikiran keliru. Orang boleh tebang pohon di mana pun sampai habis. Selama tidak ada air, tidak ada banjir. Jadi nomor satu airnya dulu. Banjir gara-gara airnya kebanyakan,” Viktor menambahkan.
Memanasnya laut yang ditandai dengan mencairnya es di kutub justru menurunkan kemampuan laut menghasilkan oksigen. Pada 2023, Kantor Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional di Amerika Serikat atau NOAA mencatat suhu permukaan laut dunia telah mencapai titik tertinggi sejak pencatatan satelit dimulai.
Peningkatan suhu ini disebabkan oleh penyerapan lebih dari 90% kelebihan panas akibat emisi gas rumah kaca. Lautan juga berperan sebagai penyerap panas utama tersebut.
Para ilmuwan memang memperkirakan sekitar separuh pasokan oksigen di bumi berasal dari lautan. Produksi ini terutama dihasilkan oleh organisme fotosintetik mikroskopis seperti plankton dan alga, serta sejumlah bakteri yang mampu mengubah energi matahari menjadi oksigen.
Salah satu organisme kunci dalam proses tersebut adalah Prochlorococcus, bakteri fotosintetik terkecil yang diketahui di bumi. Meski berukuran hanya sekitar satu mikrometer, Prochlorococcus diperkirakan menyumbang hingga 20% oksigen di seluruh biosfer.
Angka itu, menurut NOAA, bahkan ditaksir melampaui gabungan produksi oksigen dari seluruh hutan hujan tropis di seluruh daratan planet ini.
Namun, organisme penghasil oksigen di laut pun sebetulnya terancam dengan pemanasan. Penelitian Boyce dkk menyebut populasi plankton global mengalami penurunan signifikan hingga 40% dalam beberapa dekade terakhir seiring meningkatnya suhu laut dan penurunan nutrien.
Di sisi lain, meski lautan menghasilkan sedikitnya 50% oksigen bumi, hampir jumlah yang sama juga dikonsumsi oleh kehidupan laut. Sama seperti hewan darat, hewan laut memerlukan oksigen untuk bernapas, dan menggunakan oksigen untuk respirasi seluler. Oksigen juga terpakai dalam proses penguraian tumbuhan dan hewan yang mati di laut.
Sementara itu, oksigen yang dihirup manusia dan hewan daratan justru berasal dari cadangan di atmosfer yang menumpuk selama ratusan juta tahun.
Masalahnya, para peneliti pun mencatat cadangan oksigen terus menurun. Data 2 Degrees Institute, organisasi lingkungan asal Kanada, mencatat cadangan oksigen di atmosfer terus turun dalam beberapa dekade terakhir. Ini menunjukkan kalau oksigen yang diproduksi, baik di laut maupun di darat, tak bisa menjaga pasokan oksigen di atmosfer stabil.
Tak heran kalau ilmuwan memprediksi di masa depan bumi akan kekurangan oksigen. Dua peneliti yang masing-masing berasal dari Universitas Toho di Jepang dan Institut Teknologi Georgia di Amerika Serikat pernah menulis studi soal ini pada 2021.
Celakanya, suhu laut yang kian panas justru berpotensi memperbesar risiko bencana. Pada akhir November lalu, misalnya, siklon Senyar Tropis yang meningkatkan intensitas curah hujan—yang kemudian menyebabkan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—terbentuk dari proses penguapan air laut yang intens akibat suhu permukaan laut yang menghangat.
Di sisi lain, krisis iklim juga tidak hanya menyangkut berkurangnya oksigen di masa depan, tetapi juga beban karbon yang terus meningkat dalam satu abad terakhir.
Laut yang terus menghangat juga bakal kekurangan kemampuannya menyerap karbon. Suhu tinggi memperlambat sirkulasi laut dan menghambat transportasi CO₂ ke kedalaman.
Sementara di daratan, manusia merasa “boleh tebang pohon di mana pun sampai habis”—seperti kata Viktor Laiskodat. Padahal deforestasi menyumbang sekitar 10% dari total emisi gas rumah kaca global setiap tahunnya, menurut Global Canopy Programme.
Referensi2 Degrees Institute. 2023. Atmospheric Oxygen Levels Graph (diakses 7 Januari 2926)
2 Degrees Institute. 2026. Atmospheric CO2 Levels Graph (diakses 7 Januari 2026)
Boyce dkk. 2010. Global phytoplankton decline over the past century (diakses 9 Januari 2026)
Global Canopy Programme. 2013. Buku Kecil Pendorong Besar Deforestasi (diakses 8 Januari 2026)
Müller dkk. 2025. Unexpected decline in the ocean carbon sink under record-high sea surface temperatures in 2023 (diakses 8 Januari 2026)
National Oceanic and Atmospheric Administration. 2024. How much oxygen comes from the ocean? (diakses 6 Januari)




