MBG Kembali Digulirkan, Ini Catatan Kritis JPPI Soal Arah Pendidikan

suara.com
18 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo klaim program MBG berhasil, JPPI sebut berhasil merusak pendidikan.
  • Program ini dinilai mengorbankan anggaran pendidikan untuk perbaikan sekolah dan guru.
  • Guru dibebani tugas non-akademik, sementara jutaan anak masih putus sekolah.

Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dijalankan secara serentak untuk tahun anggaran 2026. Sehari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengklaim program tersebut telah berhasil hampir sepenuhnya.

Dalam pidatonya saat retret bersama para pejabat negara, Prabowo menyebut Program MBG telah mencapai tingkat keberhasilan 99,99 persen.

Namun, klaim tersebut mendapat kritikan dari Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Menurutnya, angka keberhasilan itu justru menunjukkan persoalan serius dalam arah kebijakan pendidikan nasional.

“Iya, memang berhasil, tapi berhasil merusak pendidikan. Merusak arah kebijakan, merusak prioritas anggaran pendidikan, dan merusak masa depan anak-anak,” kata Ubaid dalam pernyataannya, Jumat (9/1/2026).

Ubaid menegaskan, persoalan MBG bukan terletak pada niat memberi makan anak sekolah. Ia menyebut masalah muncul karena program tersebut dijalankan dengan mengorbankan anggaran pendidikan dan mutu penyelenggaraan sekolah.

“Tahun 2026 ini, MBG akan dibiayai Rp1,2 triliun per hari. Ironisnya, 69 persen dananya hasil jarah anggaran pendidikan,” ujar Ubaid.

Menurut JPPI, skema pembiayaan tersebut berisiko menggeser prioritas pendidikan yang lebih mendesak, seperti perbaikan mutu guru, infrastruktur sekolah, dan akses pendidikan yang adil.

JPPI mencatat, MBG justru berpotensi memperlebar ketimpangan mutu pendidikan. Ubaid menyebut, persoalan utama pendidikan Indonesia bukan soal ketiadaan makanan, melainkan akses sekolah yang belum berkeadilan, ketimpangan mutu pendidikan, serta kesejahteraan guru.

Berdasarkan data Kemendikbudristek 2024, hanya 6,2 persen guru PAUD yang telah tersertifikasi. Sementara di jenjang SD dan SMP, jumlah guru bersertifikat baru berkisar 34–40 persen. 

Baca Juga: Prabowo Serahkan Bonus Rp465,25 Miliar untuk Atlet SEA Games 2025 di Istana Negara

Pada saat yang sama, sebanyak 63–71 persen ruang kelas SD di berbagai daerah tercatat dalam kondisi rusak, dan situasi ini dinilai tidak jauh berubah hingga 2025.

“Memberi makan anak di ruang kelas yang rusak dan dengan pendampingan guru yang tidak didukung kualitas dan kesejahteraan, ini pasti memperburuk mutu pendidikan kita. Hari ini kita sedang terpuruk di jajaran yang terburuk di Asia Tenggara,” ujar Ubaid.

Prestasi Akademik Menurun

JPPI juga menyoroti capaian akademik siswa yang dinilai tidak menunjukkan perbaikan seiring pelaksanaan MBG. Perbandingan hasil Ujian Nasional (UN) 2019 dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 justru menunjukkan penurunan signifikan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Menurut Ubaid, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan nasional bukan semata soal pemenuhan gizi, melainkan lemahnya sistem pembelajaran.

“Negara memberi makan tubuh siswa, tetapi membiarkan otak mereka tumbuh dalam sistem pembelajaran yang rapuh,” katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Climate Rights Kritik Sikap Abai Pemerintahan Trump terhadap Krisis Iklim
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pelaporan Pandji Pragiwaksono Dinilai Lebay
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Daftar Nominasi Golden Globes 2026, Ada KPop Demon Hunters
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polisi Bakal Periksa Komika Pandji Pragiwaksono dalam Dugaan Penistaan Agama
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prediksi PSM Makassar vs Bali United, Head to Head dan Susunan Pemain
• 17 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.