Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan di industri multifinance mencapai Rp506,82 triliun per November 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan nilai itu tumbuh 1,09%.
“Didukung oleh pembiayaan kerja yang tumbuh sebesar 8,99% year on year [YoY],” katanya dalam konferensi pers RDKB OJK Desember 2025, Kamis (9/1/2026).
Menilik perbandingannya secara bulanan, piutang pembiayaan naik tipis sebesar 0,30% (month to month/MtM) dari Rp505,30 triliun.
Per November 2025 ini pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,44%, sedangkan NPF net sebesar 0,85%. Adapun, gearing ratio tercatat sebesar 2,13 kali.
Capaian pertumbuhan kredit multifinance hingga November 2025 menjadi gambaran bahwa kinerja industri 2025 masih menghadapi berbagai tantangan, sehingga pertumbuhan relatif terbatas.
Baca Juga
- Pembiayaan Mobil Listrik oleh Multifinance Capai Rp17,64 Triliun per Oktober 2025
- Sederet Tantangan Penyaluran Pembiayaan Modal Kerja dari Multifinance
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno berpendapat bahwa asosiasi para pelaku industri multifinance memasang sikap hati-hati untuk 2026. Proyeksi kinerja 2025 setahun penuh belum bisa dipastikan sebelum melihat perkembangan kinerja Desember 2025.
Menurutnya, jika melihat proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) hingga asosiasi alat berat, kinerja 2026 diperkirakan sama dengan yang dijual pada 2025.
“Artinya flat kan, nah kalau mereka flat kita gimana mau tumbuh? Belum lagi kalau kita sangat hati-hati, yang saya khawatirkan kita jadi agak berat untuk bertumbuh. Tahun ini [2025] aja mungkin kita akan tutup di kisaran 1%, kemarin per September 1,07% kan,” katanya seusai acara apresiasi APPI di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Sebab demikian, Suwandi menegaskan bagi asosiasinya yang penting saat ini bukan mengenai pertumbuhan, tetapi perusahaan bisa sehat, kualitasnya bagus, dan profitnya juga bagus.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan modal kerja oleh industri multifinance tumbuh 9,28% (YoY) menjadi Rp53,19 triliun per Oktober 2025.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Riset Core Indonesia, Etika Karyani Suwondo berpendapat pertumbuhan itu didorong oleh sektor produktif atau UMKM yang belum sepenuhnya terlayani oleh perbankan.
Kendati demikian, dia turut membeberkan beberapa tantangan yang perlu dihadapi perusahaan multifinance dalam menyalurkan pembiayaan modal kerja.
“Tantangannya adalah risiko kredit, keterbatasan data keuangan UMKM karena unbankable, dan potensi mismatch tenor karena kebutuhan usaha bersifat jangka menengah, sementara sumber pendanaan multifinance cenderung lebih pendek,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F11%2F24%2Fd2b03e434fa92a9b0b12e69b004a9411-20251123ron11.jpg)
