Saat 60 Prajurit Tumbang Tanpa Balasan: Hari Ketika Dunia Berubah

erabaru.net
17 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Garis pertahanan strategis terakhir Rusia di Amerika Latin dilaporkan runtuh secara memalukan, menandai salah satu pukulan geopolitik paling telak terhadap Moskow dalam beberapa dekade terakhir.

Pada 6 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Rusia secara resmi mengumumkan bahwa Satuan Tugas Gabungan “Chidao”, unit Rusia yang selama ini bertanggung jawab atas pengamanan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, telah diperintahkan untuk segera ditarik kembali ke Rusia akibat kegagalan misi.

Perintah tersebut dikeluarkan langsung oleh sistem Staf Umum Rusia dan disampaikan kepada komandan tertinggi satuan tugas, Jenderal Makaralev. Penarikan ini secara efektif mengakhiri kehadiran militer simbolis Rusia di Venezuela—negara yang selama bertahun-tahun disebut Moskow sebagai benteng strategisnya di Belahan Barat.

Rusia Gagal Total, Mundur Tanpa Perlawanan

Penarikan pasukan ini menegaskan dua fakta krusial:

-Pertama, Rusia gagal mencegah operasi penangkapan Maduro oleh militer Amerika Serikat; 

– Kedua, Moskow kehilangan kemampuan mempertahankan pengaruh politiknya, bahkan secara simbolis, di Venezuela.

Alih-alih melakukan perlawanan terbuka, Rusia memilih mundur secara senyap, sebuah langkah yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai pengakuan implisit atas kekalahan strategis.

Operasi “Absolute Resolve” dan Runtuhnya Garda Terakhir Maduro

Operasi militer Amerika Serikat yang diberi sandi “Absolute Resolve”  menjadi titik balik dari seluruh peristiwa ini.

Dalam operasi tersebut, pengamanan jarak dekat Maduro sebenarnya tidak dilakukan oleh pasukan Rusia, melainkan oleh unit khusus Kuba yang dikenal sebagai “Black Wasp” (Tawon Hitam)—pasukan elite yang selama ini dipromosikan rezim Caracas sebagai “legiun abadi” dan benteng terakhir kekuasaan Maduro.

Unit Black Wasp dikenal luas sebagai pasukan dengan pelatihan lintas negara. Para anggotanya dilatih oleh instruktur pasukan khusus dari Rusia, Kuba, Korea Utara, serta satu negara Asia Timur lainnya. Di dalam negeri Venezuela, mereka dipuja sebagai pasukan serba bisa dengan pengalaman tempur di berbagai konflik Amerika Latin.

Namun, reputasi tersebut runtuh seketika ketika mereka berhadapan langsung dengan Delta Force Amerika Serikat.

60 Banding 0: Pertempuran yang Berubah Menjadi Penghancuran Sepihak

Dalam baku tembak langsung, 32 anggota Black Wasp tewas di tempat, sementara total korban—termasuk luka berat—diperkirakan mencapai sekitar 60 orang. Sebaliknya, pihak Amerika Serikat tidak mengalami satu pun korban.

Perbandingan korban 60 banding 0 ini bahkan tidak lagi dapat disebut sebagai pertempuran konvensional. Sejumlah analis militer asing secara terbuka menyebutnya sebagai penghancuran sepihak, bahkan “pembantaian” dari sudut pandang militer murni.

Penting dicatat, kekalahan ini bukan disebabkan oleh kurangnya keberanian. Dari sisi tekad tempur dan pengalaman lapangan, pasukan Black Wasp tidak kekurangan keduanya. Bahkan dari segi perlengkapan individu—di luar keterbatasan sistem peperangan elektronik—tidak terdapat kesenjangan teknologi generasi yang ekstrem.

Namun, sebagaimana ditegaskan para pengamat, perang modern tidak ditentukan oleh keberanian, melainkan oleh keunggulan sistem secara menyeluruh.

Keunggulan Sistem AS: Perang di Dimensi yang Berbeda

Di hadapan sistem operasi khusus Amerika Serikat—yang mengintegrasikan intelijen real-time, peperangan elektronik, komando terpadu, serta pengambilan keputusan instan—bahkan prajurit paling tangguh pun berubah menjadi target yang mudah “dipanen”.

Kenyataan pahit ini kembali menegaskan satu hukum dasar peperangan modern: bukan seberapa kuat dirimu, melainkan seberapa unggul sistem lawanmu.

Lumpuh di Udara: Sistem Pertahanan Venezuela Tak Berdaya

Kekalahan Venezuela tidak hanya terjadi di darat. Pada saat yang sama, negara itu nyaris sepenuhnya lumpuh dalam aspek intelijen, pertahanan udara, sistem peringatan dini, dan respons cepat.

Beberapa sistem pertahanan udara IS-300 buatan Rusia, serta radar anti-siluman JY-27, terbukti tidak berfungsi di bawah tekanan pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler milik Amerika Serikat. Sistem-sistem tersebut gagal mengunci target, bahkan sebagian kehilangan fungsi operasional sepenuhnya.

Peristiwa ini kembali menyingkap satu fakta keras: senjata apa pun yang belum teruji dalam lingkungan peperangan elektronik berintensitas tinggi tidak layak disebut sebagai senjata canggih.

Mitos sistem perlindungan keamanan Rusia pun runtuh secara melihat.

Dampak Geopolitik: Narasi “Sekutu Rusia Aman” Terbongkar

Dengan membawa pergi Maduro melalui operasi khusus yang cepat dan presisi, Amerika Serikat tidak hanya mengubah nasib politik Venezuela, tetapi juga menghantam langsung jaringan pengaruh global Rusia.

Penangkapan Maduro secara efektif merobek narasi Moskow bahwa sekutunya aman di bawah payung Rusia, sekaligus menjadi likuidasi total aset geopolitik Rusia di Amerika Latin.

Analisis ISW: Rezim Tanpa Basis Sosial

Menanggapi peristiwa ini, Katherine Campbell, analis utama dari Institute for the Study of War, menilai bahwa rezim Venezuela sejak awal merupakan koalisi rapuh antara kelompok kriminal, oligarki kepentingan, dan birokrasi yang tidak kompeten—tanpa basis sosial yang kokoh.

Ketika rezim menghadapi momen hidup dan mati, militer, kepolisian, bahkan kelompok yang diuntungkan oleh kekuasaan gagal mengorganisir perlawanan efektif. Loyalitas runtuh seketika di hadapan kekuatan absolut.

Sinyal Berbahaya bagi Dunia

Selama bertahun-tahun, Moskow menjual satu logika sederhana kepada dunia: beli senjata Rusia, terima perlindungan Rusia, maka rezim akan aman.

Namun, di Venezuela, sistem pertahanan udara mahal gagal total, pasukan yang dilatih dengan metode Rusia bubar atau menyerah. Bagi negara-negara lain yang masih mengamati, ini merupakan sinyal peringatan yang sangat serius.

Efek Lanjutan: Ekonomi Rusia di Ujung Tanduk

Dampak paling dalam justru muncul di sektor ekonomi. Rusia sangat bergantung pada ekspor energi untuk menopang fiskal dan mesin perangnya. Jika Amerika Serikat benar-benar menguasai sumber daya minyak Venezuela, Washington akan memegang tuas penting dalam pengendalian harga minyak global.

Penurunan tajam harga minyak akan mendorong keuangan Rusia ke tepi jurang—sementara sistem ekonominya tidak memiliki mekanisme pemulihan pasar yang memadai.

Efek Domino Global Mulai Bergerak

Gelombang kejut ini kini mulai merambat keluar. Ketegangan di Timur Tengah meningkat, protes di Iran menguat, dan struktur kekuasaan di sejumlah negara sekutu Rusia mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Semua indikator ini mengarah pada satu kesimpulan besar: Rusia secara bersamaan kehilangan dua pilar strategisnya—Amerika Latin dan Timur Tengah.

Pengaruh globalnya menyusut kembali ke jantung Eurasia, dan status internasionalnya tak terelakkan melorot ke jajaran negara kelas dua atau tiga.

Ini bukan hasil perang opini, melainkan konsekuensi alami dari runtuhnya kekuatan keras, kapabilitas sistem, dan kredibilitas geopolitik secara menyeluruh.

Yang diruntuhkan Amerika Serikat bukan sekadar satu kartu bernama Venezuela, melainkan satu rangkaian kartu domino. Pada titik ini, tabir terakhir yang menutupi wajah Kremlin pun telah tercabik habis.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Richard Lee Akan Kembali Diperiksa Polisi 19 Januari Mendatang
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Pidie Jaya Bingung Bersihkan Lumpur Tebal di Rumah Mereka: Tenaga Sudah Habis, Bayar Orang Tak Punya Uang
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Emas Antam Naik ke Level Rp2.577.000 per Gram, Buyback Ikut Nanjak
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dindik Jatim Perkuat Pengawasan Setelah Ditemukan Paparan Ideologi Kekerasan pada Anak
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Penjualan Motor Nasional 2025 6,4 Juta Unit, Naik 1,3 Persen Dibanding 2024
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.