EtIndonesia. Ada empat orang tenaga pemasaran yang mendapat tugas untuk pergi ke sebuah vihara dan menjual sisir kepada para biksu.
Tenaga pemasaran pertama pulang dengan tangan kosong. Dia berkata bahwa setibanya di vihara, para biksu mengatakan mereka tidak punya rambut sehingga tidak membutuhkan sisir. Akibatnya, dia tidak berhasil menjual satu pun sisir.
Tenaga pemasaran kedua pulang dengan hasil penjualan lebih dari sepuluh sisir.
Dia membagikan pengalamannya: “Saya menjelaskan kepada para biksu bahwa kulit kepala tetap perlu disisir secara rutin. Selain mengurangi rasa gatal, menyisir juga melancarkan peredaran darah dan baik untuk kesehatan. Setelah membaca kitab suci dan merasa lelah, menyisir kepala bisa membuat pikiran lebih segar.”
Dengan cara itu, dia berhasil menjual sebagian sisir.
Tenaga pemasaran ketiga pulang dengan hasil penjualan sekitar seratus sisir.
Dia berkata : “Saya berbicara dengan biksu senior. Saya katakan, lihatlah betapa khusyuknya para peziarah. Saat mereka membakar dupa dan bersujud, setelah bangun rambut mereka menjadi berantakan dan abu dupa sering jatuh ke kepala. Jika di depan setiap aula disediakan sisir, setelah bersembahyang mereka bisa merapikan rambut. Mereka akan merasa vihara ini benar-benar peduli pada peziarah, dan kemungkinan besar akan datang kembali.”
Dengan cara ini, dia menjual sekitar seratus sisir.
Tenaga pemasaran keempat pulang dengan hasil yang mengejutkan. Dia berhasil menjual ribuan sisir, bahkan mendapatkan pesanan lanjutan.
Dia menjelaskan : “Saya berkata kepada biksu senior bahwa vihara sering menerima sumbangan dari para tamu dan tentu perlu memberikan balasan sebagai ungkapan terima kasih. Sisir adalah hadiah paling murah dan praktis. Tuliskan nama vihara pada sisir itu, lalu tambahkan tiga kata: ‘Sisir Penebar Kebajikan’, dan katakan bahwa sisir ini membawa berkah. Sisir-sisir ini bisa disiapkan sebagai hadiah. Siapa pun yang datang akan diberi satu, dijamin dupa persembahan di vihara akan semakin ramai.”
Dengan cara itu, ribuan sisir pun terjual.
Hikmah cerita:
Tanpa mengubah cara berpikir, menjual sisir kepada biksu terdengar seperti khayalan belaka.
Namun tenaga pemasaran keempat justru mengubah sudut pandang dan metode penjualan, sehingga mampu menemukan pasar yang sangat luas dari peluang yang tampaknya mustahil.
Jika setiap orang mau melihat masalah dari cara berpikir yang berbeda, berani melakukan terobosan dan inovasi, serta tidak terpaku pada pola lama, maka tidak ada alasan kita tidak bisa mengerjakan dan mengembangkan usaha—bahkan pekerjaan apa pun—dengan lebih baik.(jhn/yn)




