Produsen baterai asal Korea Selatan (Korsel), LG Energy Solution (LGES), memperkirakan akan mencatat kerugian operasional pada kuartal IV-2025
IDXChannel - Produsen baterai asal Korea Selatan (Korsel), LG Energy Solution (LGES), memperkirakan akan mencatat kerugian operasional pada kuartal IV-2025 sebesar 122 miliar won atau sekitar Rp1,4 triliun.
Estimasi tersebut lebih buruk dari ekspektasi pasar seiring melemahnya permintaan kendaraan listrik (EV) global.
Dilansir dari Reuters pada Jumat (9/1/2026), proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan LSEG SmartEstimate yang sebelumnya memperkirakan kerugian sekitar 77 miliar won atau setara Rp890 miliar. LGES menyebut pelemahan permintaan dari produsen EV menjadi faktor utama yang menekan kinerja perusahaan.
Dalam pernyataannya, LGES menjelaskan bahwa panduan kinerja kuartalan ini sudah memperhitungkan kredit pajak dari Undang-undang Pengurangan Inflasi (IRA) Amerika Serikat untuk produksi baterai di AS. Tanpa insentif tersebut, perusahaan diperkirakan akan mencatat kerugian operasional jauh lebih besar, yakni 455 miliar won atau sekitar Rp5,26 triliun.
LGES yang berbasis di Seoul merupakan pemasok utama baterai untuk sejumlah raksasa otomotif global, termasuk Tesla dan General Motors (GM). Namun, perusahaan kini menghadapi tekanan ganda akibat perlambatan pasar EV serta perubahan arah kebijakan energi hijau pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Tekanan industri juga tercermin dari langkah GM yang baru-baru ini mengumumkan penghapusan nilai aset senilai USD6 miliar pada beberapa investasinya di sektor EV. Langkah tersebut menyusul keputusan sejumlah produsen otomotif global yang mulai menahan ekspansi EV akibat permintaan yang mendingin.
LGES sebelumnya juga melaporkan pembatalan kontrak baterai senilai 9,6 triliun won (Rp110,98 triliun) dengan Ford, setelah produsen mobil asal AS itu memangkas prospek pasar EV. Kontrak lain senilai 3,9 triliun won (Rp45,08 triliun) dengan Freudenberg Battery Power Systems turut dibatalkan.
Untuk meningkatkan efisiensi, LGES berencana menjual sebagian aset pabriknya di AS kepada Honda Motor. Perusahaan juga disebut tengah mempertimbangkan penghentian sementara operasi pabrik baterai usaha patungan dengan GM di AS, yang berpotensi menimbulkan kerugian tambahan hingga 1 triliun won (Rp11,56 triliun), menurut catatan NH Investment & Securities.
Adapun LG Energy Solution dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan final kuartal IV-2025 pada 29 Januari mendatang, yang akan menjadi perhatian investor di tengah ketidakpastian arah industri kendaraan listrik global. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)





