AS Mundur dari Pakta Iklim Global, Apa Dampaknya Bagi Dunia?

detik.com
17 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menarik negaranya dari 66 organisasi dunia dengan alasan lembaga-lembaga tersebut tidak lagi melayani kepentingan Amerika. Langkah ini disebut sebagai "titik terendah baru" oleh organisasi advokasi sains nirlaba AS, Union of Concerned Scientists (UCS).

Selain memangkas pendanaan dan menghentikan kerja sama dengan sejumlah kelompok, seperti Dana Demokrasi PBB, UN Women, dan Global Forum on Migration and Development, keputusan terbaru Gedung Putih ini juga memperlihatkan sikap yang jelas anti-iklim dan anti-lingkungan.

International Union for Conservation of Nature, International Renewable Energy Agency, dan Intergovernmental Panel on Climate Change termasuk di antara lembaga lingkungan yang masuk dalam daftar organisasi tersebut. Daftar itu juga mencakup United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang bermarkas di Bonn, Jerman, dan menjadi penyelenggara konferensi iklim tahunan PBB.

Pada 2015, para pihak dalam konvensi tersebut mengadopsi Perjanjian Paris 2015 dengan komitmen mencegah pemanasan global yang tak terkendali. Trump, yang secara terbuka mendukung industri minyak dan pernah menyebut perubahan iklim sebagai "tipuan", mengumumkan rencana keluar dari perjanjian itu tak lama setelah menjabat untuk masa jabatan keduanya.

Direktur Kebijakan sekaligus Kepala Ekonom Program Iklim dan Energi UCS, Rachel Cleetus, mengatakan penarikan AS dari UNFCCC merupakan "tanda lain bahwa pemerintahan yang otoriter dan anti-sains ini bertekad mengorbankan kesejahteraan masyarakat dan merusak kerja sama global."

Wakil Kepala Divisi Kebijakan Iklim Internasional dari LSM lingkungan Germanwatch, Petter Lyden, menyebut langkah tersebut sebagai kabar buruk, baik karena hilangnya pendanaan yang selama ini diberikan AS, maupun karena "substansi untuk menyepakati kerja sama internasional dalam menghadapi krisis iklim menjadi jauh lebih sulit ketika negara sebesar itu tidak ikut dalam perundingan".

Reaksi dari Eropa

Menanggapi pengumuman Gedung Putih, Kepala Urusan Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra menulis di LinkedIn bahwa UNFCCC merupakan fondasi aksi iklim global. Ia menambahkan, keputusan AS untuk mundur dari konvensi tersebut patut disesalkan dan disayangkan.

Meski demikian, Hoekstra menegaskan Eropa akan tetap secara tegas mendukung riset iklim internasional sebagai dasar pemahaman dan kerja mereka.

Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Carsten Schneider, mengatakan keputusan tersebut tidak mengejutkan. Merujuk pada konferensi iklim PBB di Brasil pada akhir tahun lalu, menurutnya sudah jelas bahwa AS punya pilihan sendiri dalam menyikapi perlindungan iklim.

Ia menyinggung adanya berbagai aliansi baru dalam pasar karbon internasional, percepatan penghentian penggunaan bahan bakar fosil, hingga upaya melawan informasi palsu tentang isu iklim, sebagai bukti bahwa negara-negara lain tetap berkomitmen mengambil tindakan.

Lyden menambahkan bahwa arah kebijakan AS tidak akan mengubah kenyataan bahwa masa depan rendah karbon tetap berjalan. "Ekspansi energi terbarukan akan terus berlanjut," ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara-negara yang beralih ke solusi ramah iklim justru memperoleh keuntungan ekonomi.

Apakah ini akan memperlambat aksi iklim di AS?

Langkah terbaru Trump menuai kecaman dari para pemimpin iklim di AS.

Gina McCarthy, yang pernah menjadi penasihat iklim pertama di Gedung Putih dan kini menjabat Ketua Koalisi Aksi Iklim America Is All In (AIAI), menyebut penarikan diri dari UNFCCC sebagai "keputusan yang picik, memalukan, dan bodoh."

Menurutnya, keputusan tersebut berarti melepaskan "kemampuan untuk mempengaruhi triliunan dolar investasi, kebijakan, dan keputusan yang seharusnya mendorong perekonomian serta melindungi kami dari bencana mahal yang terus menghantam negara ini."

Namun, McCarthy menegaskan koalisi AIAI, yang anggotanya mencakup pemerintah daerah, pemerintah negara bagian, pelaku usaha, universitas, dan berbagai pemangku kepentingan lain, tetap berkomitmen bekerja sama di tingkat internasional untuk mewujudkan target Perjanjian Paris.

Lyden dari Germanwatch menilai akan sulit bagi California atau negara bagian lain untuk sepenuhnya menutup kekosongan yang ditinggalkan pemerintah federal. Meski begitu, ia menilai banyak hal tetap bergerak di luar "keputusan formal", di mana tingkat lokal dan regional bahkan bisa memiliki peran lebih besar dibandingkan pemerintah federal.

McCarthy mengatakan AIAI akan memperluas upaya "bekerja di tingkat lokal untuk membangun harapan dan peluang", serta tidak akan membiarkan pemerintahan ini menutup akses masyarakat Amerika terhadap manfaat besar energi bersih bagi kesehatan, keselamatan, dan ekonomi.

Rachel Cleetus juga menyatakan bahwa negara bagian AS yang berpandangan ke depan, bersama negara-negara lain di dunia, memahami ancaman perubahan iklim yang kian meningkat dan menyadari bahwa "aksi global secara kolektif tetap menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal untuk menjamin masa depan yang layak huni bagi anak dan cucu kita."

Jeannette Cwienk turut berkontribusi dalam laporan ini.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

Editor: Hani Anggaraini

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Layanan SIM Keliling Tersedia Di Lima Lokasi Jakarta Hari ini 9 Januari
• 22 jam lalunarasi.tv
thumb
China Menggila, Serangan Penuh Ditujukan ke Amerika
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dua Anak Usaha UNTR Habiskan Rp23,83 Miliar untuk Kegiatan Eksplorasi Nikel-Emas
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Maksimalkan Hak Siar Piala Dunia, Menko PM Dorong TVRI Perkuat Ekonomi Rakyat
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Wali Kota Makassar Resmikan Pabrik Pengolahan Aspal PT Tuju Wali Wali
• 18 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.