CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kesadaran generasi milenial terhadap investasi terus meningkat. Namun, tingginya minat ini tidak selalu dibarengi dengan pemahaman yang matang dalam memilih instrumen investasi yang tepat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan pentingnya menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu.
Berdasarkan data OJK, mayoritas investor baru di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 35 tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa milenial memiliki peran strategis dalam pertumbuhan pasar keuangan nasional, sekaligus menjadi kelompok yang rentan terhadap penawaran investasi ilegal jika tidak dibekali literasi yang memadai.
Berikut beberapa tips memilih instrumen investasi yang cocok bagi milenial, merujuk pada panduan resmi pada laman OJK dan Kemenkeu.
1. Kenali Profil Risiko Sejak Awal
OJK menekankan bahwa setiap investor wajib memahami profil risikonya, apakah konservatif, moderat, atau agresif. Milenial yang baru memulai investasi disarankan tidak langsung memilih instrumen berisiko tinggi tanpa perhitungan matang.
Instrumen berisiko rendah seperti SBN Ritel dan reksa dana pasar uang cocok bagi pemula yang mengutamakan stabilitas.
2. Tentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Menurut Kementerian Keuangan, investasi harus disesuaikan dengan tujuan finansial, seperti dana darurat, membeli rumah, atau persiapan pensiun. Untuk tujuan jangka pendek, instrumen likuid lebih disarankan. Sementara investasi jangka panjang dapat mempertimbangkan reksa dana saham atau saham secara bertahap.
3. Pilih Produk Resmi dan Terdaftar
OJK secara rutin mengingatkan masyarakat untuk memastikan produk investasi terdaftar dan diawasi. Milenial disarankan memeriksa legalitas perusahaan dan produk melalui kanal resmi OJK guna menghindari investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak wajar.
4. Manfaatkan Instrumen Negara yang Aman
Kemenkeu mendorong generasi muda berinvestasi pada Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, seperti ORI, Sukuk Ritel, dan Savings Bond Ritel (SBR). Selain aman karena dijamin negara, instrumen ini juga terjangkau dengan modal mulai dari Rp1 juta.
5. Diversifikasi untuk Mengurangi Risiko
OJK menyarankan agar investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen. Diversifikasi antara tabungan, reksa dana, saham, dan SBN dapat membantu mengelola risiko sekaligus menjaga potensi imbal hasil.
6. Hindari FOMO dan Janji Cuan Instan
Baik OJK maupun Kemenkeu menegaskan bahwa investasi bukan skema cepat kaya. Milenial diimbau menghindari keputusan investasi karena tren sesaat atau fear of missing out (FOMO), tanpa memahami risiko dan mekanisme produknya.
Dengan literasi yang tepat dan pemilihan instrumen yang sesuai, investasi dapat menjadi alat efektif bagi milenial untuk membangun kestabilan keuangan jangka panjang.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433995/original/041249400_1764908788-9.jpg)

