Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat jumlah impor solar Indonesia pada 2025 sebanyak 5 juta kilo liter (kl). Angka ini turun 3,3 juta kl atau 39% dibandingkan impor 2024 yang mencapai 8,3 juta kl.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan penurunan impor solar disebabkan oleh program biodiesel B40. Indonesia saat ini telah menerapkan campuran biodiesel 40% atau B40.
Kendati demikian pada tahun ini pemerintah menargetkan Indonesia bisa stop impor solar. Hal ini dilakukan melalui penerapan B50 serta beroperasinya proyek RDMP Kilang Balikpapan.
“Kalau kita sudah pakai B50 dan peresmian RDMP di Kalimantan Timur dalam waktu dekat sudah terjadi, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di 2026,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Kamis (8/1).
Indonesia saat ini memiliki dua jenis Solar, yakni CN48 yang dipakai sebagai bahan bakar oleh mobil-mobil pada umumnya. Kemudian tipe CN51 yang dipakai untuk alat berat di lokasi ketinggian. Dia mencontohkan, tipe Solar ini digunakan PT Freeport Indonesia untuk operasional tambang.
Penyetopan impor Solar ini kemungkinan besar baru bisa dilakukan untuk jenis CN48, sebab Indonesia belum cukup bisa untuk memproduksi tipe Solar CN51.
“Kamimasih ada opsi untuk impor karena permintaan industri dalam negeri belum tercukupi. Kalau tidak impor nanti industri tidak bisa berjalan,” ujarnya.
Bahlil juga mengatakan pelaksanaan program B40 bisa menghemat devisa sebanyak Rp 130,21 triliun. Program ini juga mengurangi emisi 38,88 juta ton CO2, serta peningkatan nilai tambah untuk minyak kelapa sawit (CPO) sebanyak Rp 20,43 triliun.
“Jadi dari CPO kami tingkatkan menjadi FAME, Biodiesel itulah kemudian ada peningkatan nilai tambah,” katanya.
Selain program Biodiesel, Indonesia saat ini juga sedang menyusun peta jalan penerapan kewajiban penggunaan etanol dalam bahan bakar minyak. “Saya pastikan paling lambat 2028 sudah ada mandatory, peta jalannya sebentar lagi akan selesai,” katanya.



