Cara Menyebrangi Jembatan Kayu

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Fromm adalah seorang psikolog ternama asal Amerika Serikat.

Suatu hari, beberapa mahasiswanya bertanya kepadanya: “Sejauh apa sikap mental memengaruhi seseorang?”

Dia hanya tersenyum tipis, tanpa berkata apa-apa, lalu mengajak para mahasiswa itu masuk ke sebuah ruangan gelap gulita.

Di bawah bimbingannya, para mahasiswa dengan cepat berhasil melewati ruangan tersebut—ruangan yang begitu gelap hingga tangan sendiri pun tak terlihat. Setelah itu, Fromm menyalakan sebuah lampu di dalam ruangan. Di bawah cahaya redup yang remang-remang seperti nyala lilin, barulah para mahasiswa dapat melihat dengan jelas isi ruangan tersebut. Seketika, mereka semua berkeringat dingin ketakutan.

Ternyata, lantai ruangan itu adalah sebuah kolam air yang sangat dalam dan luas. Di dalam kolam tersebut merayap berbagai jenis ular berbisa, termasuk seekor ular piton besar dan tiga ekor ular kobra. Beberapa ular berbisa bahkan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, mendesis sambil menjulurkan lidah ke arah mereka.

Fromm memandang para mahasiswa itu lalu bertanya: “Sekarang, siapa di antara kalian yang masih berani menyeberangi jembatan ini sekali lagi?”

Mereka saling berpandangan, tak seorang pun berani bersuara.

Setelah beberapa saat, akhirnya tiga mahasiswa dengan ragu-ragu berdiri. Dengan langkah gemetar, seolah menghadapi musuh besar, mereka menaiki jembatan kayu tunggal tersebut.

“Tuk!”

Fromm kembali menyalakan beberapa lampu lain di ruangan itu. Para mahasiswa mengucek mata mereka dan melihat lebih teliti. Barulah mereka menyadari bahwa di bawah jembatan kayu kecil itu ternyata telah terpasang jaring pengaman.

Fromm lalu bertanya dengan suara lantang:  “Sekarang, siapa lagi yang bersedia menyeberangi jembatan ini?”

Kali ini, seluruh mahasiswa dengan berani berjalan menyeberangi jembatan kayu tersebut.

Fromm tersenyum dan berkata: “Sekarang aku bisa menjelaskan kebingungan kalian. Ular-ular berbisa di bawah jembatan itu menciptakan tekanan psikologis yang besar. Akibatnya, kalian kehilangan ketenangan, pikiran menjadi kacau, tangan dan kaki gemetar, sehingga muncul rasa takut dalam berbagai tingkat.”

Renungan / Hikmah Cerita

Sering kali, ketika kita melihat kesulitan terlalu jelas, menganalisisnya terlalu mendalam, dan mempertimbangkannya terlalu detail, justru kita akan dikalahkan oleh rasa takut itu sendiri dan akhirnya ragu untuk melangkah.

Dahulu ada sebuah anggapan yang mengatakan bahwa orang berpendidikan tinggi sering kali sulit menghasilkan uang dalam jumlah besar. Bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena kemampuan analisis mereka terlalu kuat. Dalam dunia investasi berisiko, mereka justru kerap gentar oleh “jarak pandang” mereka sendiri—terlalu sadar akan kemungkinan kegagalan—hingga akhirnya menjadi ragu-ragu, bertindak setengah-setengah, dan kehilangan peluang besar yang seharusnya bisa diraih.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sah! RI Targetkan Stop Impor Solar Tahun 2026, B50 Jadi Senjata Utama
• 21 jam lalumatamata.com
thumb
Saham SMDR Mulai Bangkit, Masih Murah dan Direkomendasikan Trading Buy
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Exit Tol Semper Macet Parah Imbas Penumpukan Truk di Tanjung Priok
• 12 jam laludetik.com
thumb
Tarif Listrik 9, 10, 11 Januari 2026 Resmi Berlaku, Subsidi dan Nonsubsidi Tetap
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Asisten Pelatih Timnas Indonesia Sepenuhnya Dipilih John Herdman
• 16 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.