Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Meski penerimaan melambat, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi capai target 5,2 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan data terbaru, realisasi defisit APBN 2025 tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau setara dengan 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini melampaui target awal yang ditetapkan dalam UU APBN sebesar 2,53 persen atau Rp 616,2 triliun.
Menjaga Sentimen Pasar
Meski angka defisit mendekati ambang batas legal 3 persen yang diatur dalam UU Keuangan Negara, Airlangga memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga.
Ia meyakini hal ini tidak akan mengganggu kepercayaan investor, khususnya para pemegang obligasi negara (bond holders).
"Tidak ada masalah, tahun kemarin sudah ditutup dan defisitnya masih aman di bawah 3 persen meskipun tipis," ujar Airlangga saat memberikan keterangan di kutip Laman Menko Perekonomian, Jumat 9 januari 2025
Pendorong Lapangan Kerja
Kesenjangan fiskal ini dipicu oleh realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp 2.756,3 triliun, atau sekitar 91,7 persen dari target.
Di sisi lain, belanja negara tetap dipacu hingga mencapai Rp 3.451,4 triliun guna menopang aktivitas ekonomi di tengah melambatnya penerimaan.
Airlangga menjelaskan bahwa kebijakan belanja yang agresif adalah upaya sadar pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen.
"Yang paling penting kita kejar pertumbuhan. Pertumbuhan itu berkorelasi langsung dengan penciptaan lapangan kerja (employment), jadi itu yang kita dorong," tuturnya.
Optimisme Kuartal IV
Pemerintah memproyeksikan ekspansi fiskal pada akhir tahun akan memberikan dampak signifikan terhadap performa ekonomi pada penghujung 2025.
Dengan akselerasi belanja tersebut, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal IV-2025 diharapkan menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Langkah ini dipandang krusial untuk memastikan angka pertumbuhan tahunan tetap mendekati target asumsi makro, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan global di masa mendatang.
Editor: Redaktur TVRINews




